Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Perjuanganmu akan
lebih sulit karena
melawan bangsamu
sendiri.”
(Presiden Soekarno)
Ajakan untuk Berwaspada
Saatnya kita mempersiapkan diri untuk mewaspadai segala kemungkinan pada Indonesia. “Situasi kita serius, kalau bukan gawat. Kita harus terus berjuang,” kata guru bangsa Franz Magnis Suseno melalu pesan WA pada Rabu, 2 April 2025. Meskipun belum terjadi krisis ekonomi dan politik, Indonesia bergerak ke situasi yang bisa membuat cemas mulai dari ketidakpatuhan pada etika publik, supremasi hukum, institusi yang inklusif, tata kelola yang tak baik, hingga pada aturan dan norma demokrasi yang tak tertulis. Hal-hal buruk yang merusak Indonesia berasal bukan dari kekuatan asing, melainkan dari dalam diri bangsa, demikian Analisis Politik dari Sukidi, Pemikir Kebinekaan dalam kolom umum harian Kompas, Kamis, (3/4/2025) berjudul “Mewaspadai Berbagai Kemungkinan.
Dari Mana Datangnya Krisis Hati Nurani?
Apa itu krisis hati nurani? Ialah kondisi batin yang bingung di antara dua pilihan, mana yang benar dan mana yang salah?
Dalam hal ini, kelemahan suara hati dapat terjadi, karena manusia selalu membiarkan kesalahan-kesalahan kecil yang berulang dilakukan. Akibatnya, bahwa lambat laun, kekuatan nuraninya kian berkurang, karena semua kesalahan sudah dianggapnya sebagai hal biasa dan lumrah. Misalnya sambil menggerutu, kita berujar, hal seperti itu juga dilakukan oleh banyak orang koq.
Dalam alur pemikiran ini, saya teringat akan refrein dari sebuah lagu rakyat, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.” Nah, demikianlah tabiat unik manusia dalam proses kesadaran nuraninya. Terkesan bersifat sangat spontan dan mudah untuk dilakukan.
Deretan Aneka Krisis
Berikut saya menderetkan aneka krisis sesuai isi tulisan saudara Sukidi. Antara lain:
- Betapa sulitnya kita melawan perilaku yang otoriter dan koruptif.
- Etika berbangsa dirusak melalui praktik normalisasi konflik kepentingan antara kekuasaan dan bisnis, negara dan partai, dan bahkan antara bangsa dan ormas.
- Kebiasaan mayoritas yang bertindak serba permisif dan bahkan aktif menyuburkan berbagai konflik kepentingan.
- Sistem korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pemerintahan.
- Tata kelola pemerintahan yang buruk mengakibatkan tumbuhnya pelayanan birokrasi korup dan hilangnya kepercayaan dari masyarakat luas.
Aksi Demo Indonesia Gelap
Dengan sambil terus membaca dan mencermati aneka gejolak sebagai dampak langsung dari krisis nurani di dalam hidup berbangsa dan bernegara, maka lahirkan aneka aksi, antara lain, aksi turun ke jalan alias berdemo dengan mengusung tema ‘Indonesia Gelap.’
Aksi reaktif berupa demonstrasi yang tereskpresi sebagai luapan kekecewaan dan kemarahan ini harus dibayar sangat mahal setelah ditangkapnya para pelaku aksi demo. Bahkan ada petinggi bangsa yang mempertanyakan, aksi ini dengan ucapan, ‘apa maksudnya Indonesia gelap? Indonesia ini sedang baik-baik saja, kok. Aksi pun reaksi yang akhirnya mulai diam dan seolah terkubur ini akhirnya senyap ditelan waktu. Tapi luka dan duka yang telah menganga lebar itu, rupanya tidak sudi untuk disembuhkan seketika. Turunnya tulisan dari saudara Sukidi ini merupakan sebentuk demo ilmiah dalam wujud sebuah tulisan demi meluapkan sinyal, bahwa sungguh adanya krisis nurani yang berdampak kekacauan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini.
Apa dan bagaimana pun yang akhirnya kelak terjadi, hendaklah kita semua turut berpartisipasi dalam menghadapi dampak ekstrem dari krisis hati nurani ini.
Sesuai dengan Hukum Kehidupan
Bukankah terjadinya situasi ekstrem ini sudah sesuai dengan hukum kehidupan? Karena adanya ‘aksi maka lahirlah reaksi.’
Sungguh benar, bahwa hidup itu adalah sebuah proses!
Kediri, 6 April 2025

