Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kerusakan bangsa ini
hampir sempurna.”
(Buya Ahmad Syafii Maarif)
Sebuah Keluhan Panjang
Panjangnya daftar dan beratnya permasalahan bangsa membuat tokoh asketis intelektual Buya Syafii Maarif menarik kesimpulan sementara “Kerusakan bangsa ini hampir sempurna.” Pendapat Buya itu dikutip Sukidi membuka artikel opininya, “Menyelamatkan Republik Kita” (Kompas, 13/3/2025), demikian Eduard Lukman, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan membuka opininya dalam Surat kepada Redaksi, Kompas, Rabu, (2/4/2025), berjudul “Menyelamatkan Republik.”
Tentang Penyakit Kronis Korupsi
Sungguh berat beban laten penyakit kronis ‘korupsi’ yang harus dipikulkan ke pundak Republik ini. Fenomena bejad ini ibarat virus ganas yang telah menggerogoti dan mengakar kuat dalam tubuh bangsa yang ibaratnya seekor harimau tidur ini.
Kehadiran dan keberadaannya yang sudah mengakar kuat ini ibarat duri dalam daging. Mau dicabut, tapi takut sakit. Ketika dibiarkan, tapi justru kian merambat yang berdampak kian memiskinkan nurani bangsa dan membunuh warga negara akibat diterpa virus kemiskinan.
Mau Putus Asa tapi Takut Dosa
Kini kian mengertilah kita, mengapa sampai Buya Syafii sang asketis nan brilian itu, bahkan sampai berkata: “Sekiranya agama mengizinkan, saya sudah putus asa.”
Akan tetapi, Buya menyadarkan, bahwa “agama melarangnya, oleh sebab itu berbuatlah semaksimal mungkin untuk perbaikan sesuai kemampuan dan posisi kita masing-masing,” (Putus Asa dengan Indonesia, dalam Menerobos Kemelut: Catatan- catatan Kritis Sang Guru Bangsa, 2019).
Seruan Kenabian Romo Franz Magnis Suseno
Bahkan sang filsuf besar bangsa kita, Romo Franz Magnis Suseno sempat berujar, “Korupsi, mengancam hasil Reformasi yang paling penting dan dibanggakan demokrasi Indonesia.” Beliau melanjutkan, “Kalau kita tidak berhasil memberantas korupsi, bangsa kita akan gagal” (Franz Magnis Suseno, Demokrasi, Agama, Pancasila, 2021).
Apa, Mengapa, dan Bagaimana?
Apa itu korupsi?
Ya, ada dan hadirnya para tikus intelektual berdasi yang dengan seenak perut serta hatinya untuk mencuri, mengerat pundi-pundi kekayaan negara dan bangsa ini.
Mengapa korupsi itu justru kian berani, merajalela, dan bahkan sudah berjamaah? Karena nurani mereka telah termakan godaan dan bujuk rayu si iblis demi mengayakan diri hingga tujuh turunan.
Bagaimanakah sikap kita menghadapi virus maha ganas di dalam tubuh bangsa ini? Hal yang paling urgen dan mendasar ialah penanaman sikap dasar secara moral lewat pendidikan serta suri teladan.
Selanjutnya, hal yang sangat dibutuhkan ialah keteladanan moral para pemimpin. Keteladanan hidup yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisne. Bukan sekadar petuah-petuah, demikian Eduard Lukman mengakhiri opininya.
Kediri, 3 April 2025

