“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh 15:18).
Suatu saat, saya menghadapi masalah yang bertubi-tubi, sehingga saya tenggelam dalam kesedihan. Seorang sahabat yang memahami keadaan saya, datang menguatkan saya. Walaupun sahabat itu berusaha menghibur, saya masih merasa hampa. Sampai kemudian terucap sebuah pertanyaan saya: “Mengapa mengikuti Yesus itu menderita?”
“Ya tentu saja! Yesus saja yang adalah Tuhan, harus wafat di salib, apalagi kamu yang cuma pengikutnya.” Jawaban teman saya sungguh mengejutkan. Saya serasa ditampar, karena kedegilan hati saya.
Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jika Yesus yang adalah Tuhan dibenci, dianiaya, disiksa hingga wafat di kayu salib, apalagi kita yang hanya seorang hamba. Kita juga pasti akan mengalami penolakan, kebencian, penganiayaan seperti yang dialami oleh Yesus, Tuhan kita. Itulah konsekuensi mengikuti Yesus. Namun, kita harus menyadari, bahwa yang kita alami itu adalah yang terbaik yang disiapkan Tuhan untuk kita. Satu hal yang perlu kita imani, bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Dalam setiap pergumulan, kesulitan, dan masalah kita, Tuhan akan senantiasa menyertai dan memberi kekuatan.
Titin
Sabtu, 24 Mei 2025
Kis 16: 1-10 Mzm 100: 1-3.5 Yoh 15: 18-21
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

