Apa pun konfliknya itu selalu menimbulkan ketegangan, ketidakpastian, ketidaktenangan, dan jauh dari rasa kenyamanan.
Siapa yang mampu menghindari konflik? Tidak seorang pun sanggup menghindari, karena konflik itu bagian dari hidup keseharian kita.
Konflik itu bisa muncul kapan saja, di sembarang tempat, dan dengan alasan apa saja. Bisa konflik individu, suku, golongan, agama, dan bahkan antar negara.
Mengapa konflik, dan berkonflik?
Apa pun alasannya, konflik itu umumnya muncul, karena beda kepentingan, baik itu soal politik, dagang, dan sebagainya.
Bagaimana mungkin mau meredam konflik, jika tidak ada pihak yang mau mengalah dan duduk bersama untuk mencari titik temu?
Apa pun konfliknya itu berasal dari yang Jahat. Si Jahat itu senang memecah belah persaudaraan dan persatuan. Tapi, ketika kita mau mendahulukan kerendahan hati dan mengalah, maka tidak ada konflik yang tidak teratasi.
Begitu pula dengan konflik diri ini semalam. Seusai mandi, seorang sopir saya minta izin ke luar dari pekerjaan, karena mau pindah kerja ke perusahaan lain.
Berpamitan secara mendadak, siapa yang tidak kaget dan emosi?
Bersyukur, seusai mandi, sehingga tubuh saya segar. Meski kaget, tapi saya mampu mengendalikan diri.
“Mengapa mendadak? Seharusnya kau tahu, masuk baik-baik dan ke luar juga baik-baik. Tidak dadakan. Jika dari siang tadi memberi tahu, tentu bisa nyari sopir pengganti. Apalagi besok hari Sabtu, banyak barang datang dan juga kiriman,” kata saya bersikap tenang.
“Mohon maaf, Pak. Diberi tahu juga siang tadi, ketika saya kirim barang. Saya sudah minta waktu untuk diundur hari Senin, tapi tidak diberi. Sekali lagi saya mohon maaf, Pak.”
“Sesuai dengan bidangmu?”
“Puji Tuhan, ya, Pak …” senyumnya mengembang.
“Sebenarnya Bapak kecewa, tapi demi masa depanmu… tidak mau menghalangimu. Selamat, ya!”
“Terima kasih, Pak,” sambutnya gembira seakan terbebas dari beban yang menghimpit.
Saya tersenyum, lalu ke kamar mengambil uang sebagai tanda kasih. Meski sarjana, ia hampir 2 tahun jadi sopir di perusahaan saya.
“Semoga di tempat baru, masa depanmu makin baik,” kata saya sambil menepuk bahunya.
“Mohon pamit, Pak…”
Saya mengiyakan. Perlahan, tapi pasti rasa kecewa itu berangsur-angsur sirna.
Hati saya jadi lega, dan ikhlas.
Mas Redjo

