Menciptakan sebuah ‘Komunitas Iman’, komunitas murid Tuhan Yesus yang saling merindukan.
Sejak awal mula di tengah kesulitan yang dihadapi, para murid Tuhan Yesus itu berkumpul, berdoa, memecahkan ‘Roti’, dan saling berbagi (Bdk. Kis 4:42-47).
Komunitas mereka telah menunjukkan kesaksian yang nyata sebagai sebuah komunitas iman. Identitas mereka dikenal sebagai murid Tuhan Yesus. Mereka lalu disebut dengan Kristen di Anthiokia (Bdk. Kis 11: 26).
Sejak itulah kekuatan mereka dalam kesatuan iman dan hidup dengan kasih pelayanan satu sama lain. Ciri-ciri ini dipertahankan hingga sekarang, yakni dengan 4 sifat Gereja yang “Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.”
Masing-masing bertanggung jawab untuk menjaga persaudaraan satu sama lain. Jika ada yang bersalah untuk diingatkan, dinasihati, ditegur, didampingi, dan dituntun kembali.
Jika ada yang hilang itu harus dicari; yang tersesat untuk dibawa pulang; yang sedih untuk dihibur; yang lemah itu dikuatkan; yang kesepian itu harus dirangkul, dan seterusnya.
Disebutkan juga dalam Injil, jika kita berdua atau bertiga berdoa bersama dalam nama Tuhan, Dia hadir di tengah-tengah kita. Sungguh indah sekali iman dalam persaudaraan itu.
Ketika makin banyak membantu sesama, kita kian sibuk. Hal ini harus disadari, bahwa orang yang siap sedia membantu itu kehilangan banyak waktu, energi, dan hal lainnya.
Bagi yang senang membatu dan berkorban, mereka bangga dan bahagia, karena yang dilakukan itu didasari kasih.
Mari kita ciptakan komunitas murid Tuhan Yesus dengan semangat pelayanan kekristenan untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi dunia. Setiap komunitas murid Tuhan Yesus akan jadi ‘oase rohani’ untuk menimba kekuatan dan meneguk kesegaran. Sehingga hidup kita dari hari ke hari jadi baik, dan makin baik.
Rm. Petrus Santoso SCJ

