| Red-Joss.com | Bertepatan, ketika berada di anak tangga Sanberna, pagi ini saya disapa oleh Romo:
“Selamat Pagi, Mas.”
“Selamat Pagi, Romo.”
Tegur sapa biasa seperti itu sebenarnya terletak dasar hakiki dalam komunikasi. Dalam budaya Jawa, sapaan Romo itu namanya ‘aruh-aruh’ artinya menyapa. Dengan menyapa, Romo mengakui, bahwa saya ini ada.
Ber-‘aruh-aruh’, entah dalam keluarga, lingkungan, atau komunitas lebih luas, merupakan hal yang hakiki, artinya harus ada, untuk merawat dan memelihara adanya: keluarga itu, lingkungan, juga Paroki.
Untuk tujuan itu, keluarga, lingkungan, dan juga Paroki harus menjadi satu-satunya mimbar komunikasi iman, terutama ‘komunikasi iman’.
Keluarga kita, lingkungan, dan juga Paroki, tak bebas dari problem. Jika ada (pasti ada), jangan jadikan sebagai mimbar lawakan, rohani sekalipun (pernah?), atau gunjingan. Sebaliknya, prihatinlah, bantu carikan solusi. Sandinya AMDG (Aku Manut Dawuhi Gusti).
Ilustrasi: Lingkungan yang memiliki spirit AMDG .
Sebelum membaca Kitab Suci, petugas berdoa begini: “Ya Tuhan, saya tidak pantas membaca Sabda-Mu, tapi bersabdalah saja, maka saya akan pantas.” Doanya tepat, mohon dilayakkan untuk membawa pesan suci.
Jelas tidak sempurna, Pamong Sabdanya juga tak sempurna, Kaling juga. Tetapi, ketika lingkungan dihargai sebagai mimbar komunikasi iman, banyak soal, ada yang rumit juga, dapat diselesaikan.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

