RedJoss.com – Komplain itu menu harian yang biasa tersaji di setiap meja makan untuk kita santap.
Bukan berarti tidak ada variasi menu yang lain, melainkan komplain itu merupakan menu favorit warisan leluhur turun temurun.
Suami komplain kepada istri, karena rumah berantakan, sayur keasinan, lauk membosankan, dan seterusnya.
Istri komplain kepada suami, karena uang belanja tidak mencukupi, malas membantu beberes rumah, hobi mancing ketimbang mencari usaha lain.
Komplain itu bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Komplain itu juga tidak kenal unggah-ungguh atau tepo seliro.
Coba lihat di medsos itu. Setiap hari kita disuguhi komplain, nyinyiran, atau sumpah serapah terhadap kinerja Pemerintah yang seperti tak ada benarnya itu.
Komplain dari segala komplain, yang paling suloyo itu, ketika kita berani komplain kepada Allah. Allah seakan tidak peduli akan pandemi, usaha yang berantakan, atau doa yang tidak kunjung dikabulkan.
Mengapa hati kita dijejali komplain? Karena, sebenarnya komplain itu menunjukkan ketidakmampuan dan kelemahan sendiri. Bisa jadi kita iri hati akan prestasi dan kelebihan orang lain.
Sekiranya terpaksa komplain, kita juga dapat melakukannya secara elegan dan mengedepankan kasih agar tidak timbul kesalahpahaman atau konflik.
Apapun bentuknya, komplain itu harus disikapi dengan bijak, rendah hati, dan saling introspeksi untuk temukan solusi.
Sebagai suami istri, komplain itu sarana untuk mengingatkan agar kita tidak salah langkah atau kebablasan. Sebaliknya, dengan berani mengalah, kita diajak saling melengkapi dan mengisi untuk membina rumah tangga yang bahagia.
Sekali lagi, komplain yang didasari niat baik dan tulus itu tidak menuntut untuk ditindaklanjuti, tapi dipahami.
Ketimbang menuntut orang lain untuk berubah, lebih bijak kita yang berubah sendiri untuk menjadi semakin lebih baik.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

