Mengambil keputusan untuk setia mengikuti Yesus itu dibutuhkan komitmen yang tegas dan kuat agar kita tidak ragu, ketinggalan, atau salah jalan.
Karena tanpa komitmen yang tegas dan kuat itu kita menjadi kosong tanpa isi. Kelihatannya semarak, meriah, dan indah. Tapi tidak ada apa-apanya. Ibarat balon kosong. Menarik di tampilan luar, tapi tanpa isi.
Dalam suatu pesta, balon itu menambah daya tarik tersendiri. Tapi jangan terkecoh oleh yang kelihatan indah menawan itu. Sebab hakikat sesungguhnya = kosong. Hampa! Isinya gas atau udara. Terbang ke sana ke mari dengan lincah. Tapi tidak berapa lama … “wuss”, kempes, dan lenyap.
Jika mau, kita justru dapat belajar dari sebuah telor. Dibandingkan dengan balon, telor itu jelas kalah cantik dan kalah menarik. Kecil, rentan, dan mudah pecah. Tapi dalam telor itu ada potensi kehidupan. Bila saatnya tiba, akan muncul kehidupan dan siap untuk bertahan hidup. Dipersiapkan dengan matang dalam keheningan.
Mengikuti Yesus dengan komitmen yang tegas dan kuat itu juga seperti telor. Kita disiapkan oleh keluarga (baptisan bayi) atau lewat pilihan sendiri (baptisan dewasa), diharapkan berada dalam kondisi seperti itu. Sehingga dapat terus menjaga iman dengan baik.
Percaya kepada Allah, bagi banyak orang, bukan persoalan. Yang menjadi soal adalah, mengapa kita percaya kepada Allah dengan mengikuti Yesus Kristus = Allah yang menjadi manusia. Apa jawaban kita? Sebab hanya di dalam dan melalui Yesus Kristus, Ia menjadi Allah yang akrab dan dekat. Allah yang menyapa kita dengan bahasa yang kita mengerti. Allah yang bisa merasakan penderitaan kita, karena Ia pernah menderita. Bersama Dia, kita tidak pernah sendirian.
Dalam Injil ditampilkan tentang beberapa orang yang mempunyai inisiatif sendiri atau bahkan diminta sendiri oleh Yesus untuk mengikuti-Nya. Tapi apa yang terjadi? Tidak ada yang lolos. Sebabnya, karena mereka banyak alasan. Ada yang kalah sebelum bertanding, Ia tidak mempunyai tempat yang nyaman. Bahkan untuk tidur saja tidak ada tempat yang tetap. Sedang yang lain, ingin mendampingi orangtua dulu, sulit meninggalkan pekerjaan, dan seterusnya. Kesimpulannya, alasan yang dibuat-buat, dan mereka tidak layak.
Motivasi mereka untuk mengikuti Yesus tidak kuat. Hasilnya tentu tidak maksimal, alias sia-sia dan malah merepotkan. Jika kita dalam hidup ini sudah menentukan dan memutuskan Yesus sebagai sumber dan pusat hidup, jalani hal itu dengan sebaik-baiknya.
Menerima Yesus barangkali sudah, tapi hidup dalam tuntutan-Nya yang belum maksimal. Bagaimana jadi maksimal, jika berdoa atau ke Gereja, kita sering menunda-nunda. Atau ketika berdoa dan di Gereja itu setengah hati, alias tidak pernah serius. Penting bagi kita untuk memeriksa niat dan kemauan hati dengan jujur dan teliti untuk serius mengikuti Yesus.
Apakah di tengah kesibukkan ini, kita selalu merindukan Allah? Seperti miliki mata untuk melihat dan tangan untuk meraba, kita ada untuk apa? Untuk mencari, menemukan dan akhirnya menyatu dengan Allah. Untuk mencapainya dibutuhkan motivasi yang kuat, sehingga hasilnya maksimal.
Komitmen dan konsisten untuk mengikuti Yesus. Bahagia bersama-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

