Yesusku, cukup Yudas Iskariot yang berkhianat, saya tidak. Ungkapan saya adalah komitmen iman, setelah benar-benar mengikuti Yesus. Tidak hanya dari yang diajarkan, tapi hati saya telah disentuh oleh hidup-Nya yang amat mengasihi.
Mengapa ada yang meninggalkan Yesus? Apakah sudah dipikirkan matang? Apakah hati ini secara batiniah cukup tenang setelah meninggalkan Yesus?
Jawabannya ada di hati kita masing-masing.
Secara rohani, apakah kita menemukan relasi yang amat dekat dan akrab, saat bersama Yesus? Hal ini juga pribadi masing-masing yang bisa menjawabnya.
Sesungguhnya siapa pun yang mempunyai pengalaman bersama dengan Tuhan Yesus itu benar-benar berelasi yang amat dekat.
Lihat, para murid yang dipilih oleh Yesus. Bagi mereka, dipilih itu adalah berkat yang luar biasa. Karena jadi murid Yesus, seorang Rabbi yang luar biasa saat itu.
12 murid itu mengikuti ke mana pun Dia pergi. Karena amat akrab relasi di antara mereka. Yesus memanggil mereka juga sebagai sahabat.
Kita tahu konsekwensi panggilan sebagai sahabat itu. Kita tidak boleh main-main atau seenaknya, tapi harus setia dan loyal. Jika tidak, maaf, kita disebut sebagai pengkhianat. Seorang pengkhianat itu tidak tahu diri dan menusuk dari belakang.
Di satu sisi, iman itu menghargai dan menghormati kebebasan memilih. Tapi jangan lupa, iman itu menuntut yang namanya kesetiaan dan loyalitas agar diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik untuk umat manusia.
Ketika berjumpa dengan pribadi yang beriman lain, kita saling menghormati, karena pada saat itu kita bisa melihat, bahwa beriman itu panggilan. Yang melatar-belakangi tiap pribadi adalah pengalaman yang berbeda-beda. Dalam hal ini tidak perlu dimasalahkan dan didebatkan untuk pembenaran diri. Beriman yang baik dan benar itu membuat jiwa jadi damai. Sehingga suatu saat nanti kita dapat memahami kedalaman iman sendiri.
Sahabat, belajarlah untuk setia dan loyal kepada Yesus. Kita dipanggil jadi murid dan sahabat-sahabat-Nya. Cukup Yudas Iskariot saja yang berkhianat, kita tidak. Kita harus makin setia dan loyal pada-Nya.
“Yesusku, cukup Yudas Iskariot yang berkhianat, saya tidak.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

