“Commitment is an act, not a word.”
– Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Suatu kali Ayam, Sapi dan Kambing sedang jalan-jalan ke kota. Mereka mampir di sebuah restoran.
“Lihat mereka makan telur kami. Itu sumbangan kami masyarakat Ayam untuk manusia,” Ayam membuka pembicaraan.
“Lihat mereka minum susu. Itu sumbangan sapi untuk manusia,” kata Sapi tidak mau kalah.
Melihat semua itu, Kambing dengan tenang bicara menimpali, “Teman-teman telur dan susu itu hanya partisipasi kecil dari kalian. Coba lihat! Itu komitmen 100% kami bagi manusia.” Kambing menunjuk hidangan kambing guling yang sedang disantap oleh pengunjung.
Begitu pula dalam hidup kita. Komitmen itu wajib. Komitmen itu harus 100%, bukan 99%, apalagi 10%. Komitmen itu totalitas bukan setengah-setengah. Sebuah hubungan bukan hanya soal cocok, suka, dan cinta. Tapi butuh yang namanya komitmen. Bersedia menanggung suka dan duka bersama. Menerima kekurangan dan kelebihan dengan cinta. Memikul beban menuju kebahagiaan dengan tekun dan sabar. Memaafkan bila ada salah dan kemelut persoalan. Mencari jalan ke luar, tidak untuk menyalahkan.
Semua itu tidak mudah. Masing-masing pasti ada yang kurang dan salah. Tidak ada di antara kita yang sempurna, justru dari ketidak sempurnaan itu, kita saling menyempurnakan. Semua butuh proses, usaha, dan perjuangan. Semua itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Jangan menyerah saat ada masalah. Jangan cepat berpisah, saat ada salah. Berhenti mencari kesalahan dan menyalahkan. Jadilah pemenang yang mencari peluang. Bukan mengorek luka yang mulai sembuh, tapi duduk bersama mencari jalan ke luar demi sebuah harapan.
Bila semua menyerah, dan tak ada harapan, apa lagi tempat untuk bersandar. Yakinlah masih ada lutut untuk bersujud, mulut dan hati untuk berdoa. Yakinlah selalu ada jalan bagi yang punya iman dan mengandalkan Tuhan.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

