Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jadilah, laksana batu fondasi kokoh, walau tersembunyi di dasar bangunan.”
…
| Red-Joss.com | Tulisan kecil ini bersifat sebuah pertanyaan retoris reflektif, mengajak serta menghimbau agar di dalam hidup ini, kita senantiasa menyadari akan makna pentingnya kekokohan batu dasar bangunan hidup kita.
Proses hidup serta kehidupan sang manusia, laksana seorang tukang bangunan membangun sebuah menara.
Sebuah bangunan menara itu, dibangun di tempat yang paling strategis. Karena, menara adalah bangunan simbol perjuangan, misalnya. Menara pandang, dibangun sebagai tempat untuk memandang dan memantau kapal-kapal. Menara Katedral, dibangun sebagai simbol kemegahan yang mengarahkan manusia kepada Tuhan.
Anda dan saya, kita, pun dibangun laksana menara-menara hidup.
Sebuah menara yang dibangun, menyimbolkan kepribadian serta kekokohan jati diri sang manusia.
Bagaimana jati diri serta karakter hidupmu akan kokoh kuat, jika ternyata, Anda telah membangun menara hidupmu di atas dasar pasir?
Saudaraku, kita, sang manusia, yang adalah simbol sebuah bangunan hidup yang berdiri kokoh kuat di atas dasar prinsip-prinsip hidup serta kemanusiaan, mutlak memiliki batu dasar fondasi hidup yang sungguh kokoh.
Kekokohan serta keagungan sesosok pribadi sang manusia,
itu mutlak perlu.
Kesetiaan, keteguhan, keberanian, ketulusan, kejujuran, pengorbanan, serta sikap tanggung jawab, itulah batu dasar hidup sang manusia sejati.
Anda dan saya, bahkan kita, bukanlah laksana baling-baling penunjuk arah angin yang sekalipun mungkin disepuh emas murni, tetapi sungguh tidak berfaedah. Mengapa? Karena baling-baling bersepuh emas itu, sesungguhnya tidak berandil mengokohkan bangunan manara itu.
Baling-baling penunjuk arah angin itu, berputar dan bergerak tidak atas dasar kehendak nuraninya. Tetapi, ia hanya digerakan oleh sistem kerja sebuah mesin.
Anda dan saya, bukanlah sekadar sebuah baling-baling. Kita, sang manusia berkepribadian luhur mulia. Kita, dibangun di atas dasar batu pondasi iman serta kepribadian seorang manusia yang adalah citra agung Sang Gusti Tuhan.
Hidup serta kehadiran kita manusia sesungguhnya, bertujuan luhur mulia. Sebagai mahkota segala ciptaan, kita telah dibangun untuk memuji serta meluhurkan nama Sang Tuhan.
Hendaklah hati kita tetap percaya, bahwa kitalah bangunan hidup yang berdiri kokoh di atas kehendak serta cinta Sang Gusti Suci.
Ironis dan sungguh ironis, jika kita, selaku manusia, justru telah melalai-lupakan fungsi agung akan eksistensi kita di atas bumi ini.
Mari, jadilah kokoh kuat laksana sebuah menara pandang, karena kita telah dibangun di atas bukit batu karang!
“Sesungguhnya, Andalah, bangunan menara berfondasi dasar batu itu!”
…
Kediri,ย 29ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

