“… Be like a wise man who built his house on rock” (Matthew 7: 24).
…
| Red-Joss.com | Batu, batu karang itu menjadi simbol dari kekuatan, kekokohan. Simbol keteguhan dan kemantaban. Simbol dari “Solidity and Stability”.
- Iman itu harus kuat! Tidak mudah goyah.
- Iman itu harus kokoh! Tidak mudah goncang.
- Iman itu harus teguh! Tidak mudah ragu.
- Iman harus mantab! Tidak selalu bingung.
- Iman harus padat dan stabil! Tidak mudah berubah.
Konon yang paling mudah itu ‘tidak beriman’. Karena tidak memikirkan apa-apa. Tapi apa iya dan benar. Faktanya belum terbukti. Bahkan realitanya, banyak orang yang gelisah, ketika sakit. Banyak orang yang takut, ketika mendekati kematiannya. Mengapa? Karena hatinya kosong.
Iman yang kokoh itu harus diperjuangkan, dipelihara, dan dihidupi. Karena iman yang kokoh itu bisa dipertanggung-jawabkan. Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang iman yang kokoh itu dibangun di atas batu. Artinya, “We remain strong and unshaken because we have built our lives on a firm foundation.”
Sesungguhnya, iman itu pilihan dan memilih. Tapi jangan memilih untuk tidak menghidupinya. Jangan memilih, tapi kemudian tidak bisa menjalaninya. Jangan memilih, tapi setelah itu tidak bisa menghayati imannya sendiri.
Iman itu adalah pondasi untuk hidup baik, benar, dan hidup yang suci. Jika iman itu tidak bisa menghantar dan menuntun kita pada ketiga hal itu, maka ada sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik. Mungkinkah ini yang terjadi, “Not everyone who says to me, “Lord, Lord”, will enter the Kingdom of heaven, but only the one who does the will of my Father in heaven” (Matthew 7: 21).
Benar! Iman itu tidak hanya di bibir atau diucapkan, tapi harus dibatinkan, dan dihidupi dengan perilaku baik. Yang menjalaninya adalah pribadi-pribadi yang beriman kuat, kokoh, dan tidak mudah berubah-ubah. “Faith is not a game.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

