Seorang Guru Bijak tersenyum arif mendengar keluh kesah muridnya. Ia diam dan manggut-manggut, tapi tidak mengomentari, sehingga muridnya itu bertambah kesal.
“Kenapa Guru diam?”
“Diam itu menghargai. Menyimak itu untuk menyikapi. Membuka hati itu untuk memahami. Mengapa mesti reaktif, jika tidak ditanggapi atau tidak sepaham. Seharusnya kita belajar menerima walau ditolak dan dicaci; tidak perlu risau, apalagi membebani pikiran.”
“Sekiranya kau ‘dipaido’, tidak dipercayai, atau dibilang sok menggurui, sok moralis …! Bahkan, meskipun kita dilabeli aneka keburukkan yang lain. Semua itu tidak jadi masalah, karena yang penting itu niat dan maksud baik kita. Mengapa mesti dipusingi?! Karena orang itu bebas ngomong. Faktanya banyak dari kita merasa memahami, tapi tidak menjalani dan sekadar berteori. Kita berpikir dangkal, membatasi diri, dan bahkan menutup diri. Padahal, sejatinya makin banyak belajar, kita makin tidak tahu apa-apa. Karena samudra pengetahuan itu teramat luas, berapa banyak kita mampu menampungnya?!”
“Socrates mengatakan, dalam menerima sebuah informasi kita menimbang 3 nilai, yaitu kebenaran, kebaikan, dan kegunaan. Nilai kebenaran itu kadang relatif. Kebaikan dan kegunaan itu tergantung, bagaimana kita mengejawantahkannya. Karena itu, suatu informasi tanpa salah satu dari ketiga nilai di atas itu tidak berguna.”
Pusing itu datangnya dari pikiran sendiri. Tapi orang yang mampu menyederhanakan hidup dan menyukurinya sebagai hikmat Tuhan itulah anugerah sejati.
Terpujilah Tuhan.
Mas Redjo

