“Ketika Tuhan datang mendekat, Ia memulihkan yang kudus dan membangkitkan kembali kerinduan akan hadirat-Nya.”
Injil memperlihatkan Yesus memasuki Bait Allah, bukan sebagai pengunjung biasa, melainkan sebagai Tuhan atas tempat suci itu. Ia membersihkan Bait Allah, mengusir yang tidak pantas, dan mengingatkan umat, bahwa rumah Allah adalah rumah doa. Dalam tindakan-Nya, Ia menyingkapkan dua kebenaran besar.
- Pertama: Yesus menunjukkan jati diri-Nya. Yang berani menyucikan Bait Allah adalah Allah sendiri yang dahulu memenuhi Bait itu dengan kemuliaan-Nya. Saat Ia bertindak, Ia seakan bersabda: “Tuhan telah datang ke Bait-Nya.”
- Kedua: Yesus menyingkapkan, bahwa sesuatu yang lebih agung sedang lahir: Bait yang baru, yaitu tubuh-Nya yang tersalib dan bangkit mulia.
Siapa pun yang berpegang pada-Nya, dan tinggal dalam rahmat-Nya, jadi bait Roh Kudus yang hidup.
Yesus tidak menolak perdagangan, tapi Ia menegur hilangnya hormat, tercampurnya yang kudus dengan yang profan, serta ketidakjujuran yang berlangsung tepat di hadapan hadirat-Nya. Bait Allah: tempat kediaman-Bya di tengah umat telah dipenuhi suara, hiruk pikuk, dan hati yang terpecah.
Sering kali kami mudah menyalahkan para pedagang itu, tapi Firman-Mu justru mengajak kami melihat bait dalam diri kami sendiri.
Berapa kali kami masuk gereja tanpa rasa hormat?
Berapa kali sikap tubuh, kata-kata, atau perhatian kami menjadikan Gereja terasa seperti tempat biasa, bukan perjumpaan Surga dan bumi?
Berapa kali ada ‘pasar’ dalam pikiran dan kekhawatiran kami memenuhi ruang doa di hati?
Yesus menunjukkan semangat yang kudus itu: cinta yang berkobar bagi hadirat Bapa, keberanian menjaga yang suci, dan keteguhan untuk menyatakan kebenaran, meski ditentang. Tak heran orang banyak “terpikat pada perkataan-Nya.”Mereka merasakan ketulusan, kemurnian, dan wibawa Ilahi yang terpancar dari-Nya.
Ya, Bapa, sucikanlah kami kembali.
Jadikan hati kami tempat tinggal-Mu yang layak. Bangkitkan dalam diri kami kerinduan akan keheningan, hormat, dan perhatian penuh di hadapan-Mu. Anugerahkan kami kerendahan hati untuk menghormati rumah-Mu: terutama Sakramen Maha Kudus, melalui tubuh, kata, dan disposisi batin kami.
Semoga setiap kunjungan ke Gereja menyalakan kembali rasa kagum. Setiap Ekaristi memperdalam kerinduan. Setiap sembah sujud meneguhkan kesaksian kami. Sehingga makin banyak orang mengenal kehadiran-Mu lewat cara kami memuliakan dan mengasihi-Mu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

