“Di saat sendiri, sebenarnya kita tidak berteman sepi dan kesepian, karena Tuhan menemani.” -Mas Redjo
Hal itu yang saya rasakan, ketika ditinggal mudik istri ke kota S lebih dari 2 Minggu bersama anak bontot. Saya bersama anak kedua yang sibuk dengan pekerjaannya, dan sering ke luar kota. Praktis, saya seperti di rumah sendirian.
Meski ditinggal sendirian, saya tidak merasa sepi dan kesepian. Karena saya mempunyai binatang piaraan, seperti anjing, ikan hias, kura-kura, dan burung-burung yang bersarang di pohon halaman rumah.
Bersyukur, sejak bujangan saya terlatih hidup mandiri, sehingga rumah dan halaman yang luas itu tidak membuat saya kesepian. Dengan beberes rumah, saya menjaga tubuh ini tetap sehat.
Saya sadar, bahwa istri ke S juga tidak ‘nglencer’, tapi mengurus adiknya yang akan menjalani operasi, dan harus didampingi.
Istri pergi ke S itu untuk menemukan adiknya kembali yang telah sekian tahun menghilang, ceritanya mirip kisah dalam KS (Luk 15: 11-32).
“Kau adalah pengganti orangtua. Kita tidak boleh membenci saudara, tapi bencilah perbuatan dosanya,” saya mengingatkan istri, setelah seminggu di S.
Tidak hanya itu, jika menolong itu tanpa alasan, tapi spontan, harus dituntaskan, dan ikhlas hati.
Bagi saya pribadi, “Apa gunanya memperoleh seluruh dunia, tapi kehilangan nyawanya?” (Mark 8: 36)
Selalu percaya dan mengimani Tuhan, karena IA setia.
Mas Redjo

