Oleh : Rio, Scj.
“Menyenangkan orang lain itu baik, tapi tidak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang.”
- Rio, Scj.
| Red-Joss.com | Apakah Anda sulit mengatakan tidak? Jika ya, bisa jadi kita termasuk ‘people pleaser’. Menurut Merriam Webster dan Susan Newman, ‘people pleaser’ itu sebutan orang yang selalu berusaha melakukan dan mengatakan yang menyenangkan orang lain. Tujuannya, agar orang lain tidak kecewa padanya.
Ada beberapa ciri ‘people pleaser’, yaitu meletakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri agar ia bisa menyenangkan dan disukai. Membentuk diri sesuai keinginan orang lain. Ia juga punya kebutuhan tinggi diterima orang lain.
Ia juga setuju suara terbanyak tanpa pikir panjang. Mensensor diri menghindari konflik. Sehingga ia terkesan tak punya pendirian. Akibatnya ia tak mengenal diri sendiri, karena sibuk memikirkan perasaan dan keinginan orang lain. Ia merasa layak dicintai, ketika ia memberikan segalanya untuk orang lain.
Memang menyenangkan orang lain membuat kita turut bahagia. Relasi dengan orang lain juga lebih baik, ketika kita mempertimbangkan perasaan orang lain. Tapi ia sering dikendalikan orang lain, karena minim kendali atas pikiran, perasaan, dan diri sendiri.
Zaman sekarang virus ‘people pleaser’ mulai menyerang. “Like, followers, dan rating” menjadi cara virus itu menyerang. Orang berlomba mengungah foto, video, tik tok agar dapat like, pujian, komen sebanyak-banyaknya. Tujuan satu, supaya diterima, dipuji, dan dikagumi banyak orang.
Stop jadi people pleaser! Coba deh lakukan ini. Pertama, katakan: tidak! Berani mengatakan ‘tidak’, berarti bukan akhir dari segalanya. Karena banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan pendapat itu.
Kedua, sadarlah! Tidak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang. Tuhan yang sempurna pun tidak bisa menyenangkan semua manusia, bahkan malaikat pun tidak kok. Selama kita bisa menyenangkan diri dan orang yang pantas kita bahagiakan dengan segala kelebihan dan kekurangan itu sudah cukup.
Ketiga, “be best your self.” Jadilah versi terbaik diri kita. Itu bukan ego, tapi bentuk penghargaan luar biasa terhadap Sang Pencipta. Maksimal mengembangkan talenta untuk perkembangan diri dan berguna bagi sesama itu sudah membuat Tuhan tersenyum.
Keempat, “you are the special one.”
Seburuk dan sekacau apa pun hidup keseharian ini, kita tetap berharga.
Kita berharga, dan berharganya kita tidak ditentukan oleh sesama, harta, deposito, maupun ‘followers’. Berharganya kita, karena Tuhan yang menilai. Seburuk apa pun hidup kita, dosa, atau sekacau apa pun hidup keseharian ini, kita tetap berharga. Kita dikasihi-Nya.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

