Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hingga kapan, bahwa kita ini
sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Idealkah Kondisi Hidup Kita?
‘Hidup ideal’ dimaknakan sebagai sebuah kondisi hidup yang baik: nyaman, aman, damai, bahagia, dan sejahtera lahir batin. Tapi realitas dari dinamika hidup kita ini ternyata tidaklah demikian.
Kondisi miris ini, oleh para pendahulu kita dinamakan, hidup kita ‘ibarat jauh panggang dari api.’ Sebuah pendeskripsian hidup, bahwa sungguh, bangsa dan negara kita sedang berada dalam kondisi yang tidak ideal alias kondisi yang sangat memprihatinkan.
Ada pun spirit dasar tulisan ini akan membahasnya lewat sebuah ‘pintu gerbang bernama keprihatinan.’ Ya, tentang sebuah sikon riil yang kini sedang kita alami di dalam tubuh sebuah bangsa yang sangat besar ini.
Secara Historis
Sejak berdirinya negara dan bangsa besar ini, yang diproklamasikan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 dan hingga kini, tahun 2025 yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, toh keadaannya masih tetap sama. Sekalipun seribu janji manis untuk keadilan dan kemakmuran telah dipropagandakan lewat proyek raksasa berupa janji-janji kampanye pemilu, toh rakyatnya, ya, masih tetap sama saja keadaannya. Hal ini pun telah terbukti lewat realitas hidup harian dari masyarakat kita.
Rakyat masih Berteriak
Hingga tulisan refleksi ini diturunkan, riil, bahwa rakyat masih terus saja berteriak: kami lapar, mengapa harga barang-batang kebutuhan pokok mahal, mengapa praktik ketidakadilan terus meraja lela, penyakit kronis korupsi kian mewabah, raibnya sikap kejujuran di dalam ajang pemilu, hasil pendidikan yang hanya menghasilkan air mata, sikap gila hormat serta main kuasa, karakter bejat para pejabat yang tidak beretika, sikap fanatisme beragama, dan seribu satu macam persoalan lainnya.
Kondisi riil ini benar-benar mau mengiyakan, bahwa sejatinya, masyarakat kita memang sedang merangkak di dalam ‘kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.’
Mengapa Terus Terjadi Demikian?
Sejak dari gaung dan gema gegap gempitanya zaman Reformasi (1998), yang menandai berakhirnya zaman Orde Baru lewat sumpah serta janji-janji idealnya, toh kondisi riil bangsa dan negara ini tidak banyak berubah ke arah yang lebih baik. Maka, kita pun boleh lugas bertanya, “Mengapa hal ini justru terus terjadi?”
Faktor Manusia Pemimpin
Apa dan bagaimana pun sebuah negara dipimpin dan dikomandoi oleh seorang manusia yang disebut pemimpin. Jadi, aspek manusia, selaku sang pemimpin sebagai ‘actor intellectual’ alias dalang utamanya.
Manusia yang berkualitas bagaimana? Ya, manusia yang berkarakter mulia dan sungguh berjiwa Pancasilais. Jika tidak demikian, maka hidup bernegara dan berbangsa kita pun akan tetap sama. Sungguh negara besar ini membutuhkan figur seorang pemimpin yang berhati luhur dan mulia.
Selain aspek kepemimpinan selaku memimpin negara, maka negara membutuhkan para abdi negara dan bangsa. Merekalah yang akan melaksanakan perintah dan komando dari pemimpin negara.
Maka, karakter mereka harus terpuji dan berjiwa Pancasilais. Karena bukankah para pembantu presiden adalah pelaksanaan lapangan yang hidupnya justru berada bersama dan di tengah-tengah rakyat? Jika mereka tidak setia dan bermental penguasa, makan rakyat akan terus jadi korban, dan cita-cita hidup bahagia serta sejahtera hanya slogan belaka.
Doa Pengharapan
“Semoga mimpi-mimpi besar dari rakyat bangsa ini, akan terwujud kelak lewat ketulusan hati para pemimpin serta abdi negara dan bangsa. Semoga ratapan panjang tentang nasib sial dan hidup sengsara pun akan sirna dari tubuh bangsa beradab ini, Amen.”
Kediri, 2 Juli 2025

