“Karena Aku Mau, ya Tuhan. Engkau memampukanku.” -Mas Redjo
…
“Tanpa berani untuk mencoba hal-hal baru, bakat dan talenta kita bakal terkubur untuk selamanya,” ungkap KN, produsen kue ‘kacang sembunyi’, lebih dikenal ‘kacang umpet’.
Terkena phk tahun 2008 dan tidak mempunyai uang membuat KN pusing, apalagi istrinya sedang hamil anak pertama.
Ide membuat kacang umpet itu bermula, ketika mertua KN datang dari Purwakarta membawa oleh-oleh makanan kesenangan istrinya itu. Mengapa tidak dicoba untuk membuat sendiri lalu dititipkan ke warung-warung?
Awalnya, mertua KN menyarankan untuk mendatangkan dari tetangga Purwakarta, lalu dibungkusi sendiri, dan praktis. Tapi ide itu ditolak oleh istrinya yang lulusan SMK Boga dan bisa membuat kue itu. Sedang KN yang memasarkan, sehingga klop.
“Asal mau ulet, sabar, dan prihatin. Tuhan memberkati dan usaha kita bakal dilancarkan-Nya,” tandas KN optimis dan wajahnya sumringah.
Untuk merintis usaha itu, diakui KN tidak mudah. Apalagi modalnya minim dan sedang resesi dunia. Tapi ia tidak mau dihantui oleh bayangan dan ketakutannya sendiri, apalagi berkaitan modal. Prinsipnya adalah “alon-alon asal ketakon.” Meski lambat asal sampai di tujuan dengan selamat.
“Banyak orang melihat kita, ketika sukses. Padahal untuk mencapai ke sana itu butuh proses, jatuh bangun, dan perjuangan yang tidak mudah.”
Dari usaha warungan itu, KN lalu menyewa ruko untuk membuka toko sendiri. Sekaligus untuk mengageni produk lain, dan barter dengan pabrik yang merangkap sebagai distributor kue kering.
“Puji Tuhan, toko itu akhirnya kebeli,” ungkap KN penuh syukur.
Kini KN tidak sekadar memproduksi kacang umpet, tapi juga kue telur gabus, dan kue bawang untuk memenuhi permintaan agen.
“Asal kita mau berusaha dan berjuang, Tuhan memampukan,” pungkas KN sambil meminta saya untuk mengicipi kue kacang umpet buatannya.
Tertarik untuk wirausaha, Lur?
…
Mas Redjo

