Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Saudara, apa makna yang ‘terbetik dan terkesan’ di dalam kesadaran kita, saat membaca judul, “Kita Cuma Numpang Lewat?”
Saudaraku, sesungguhnya, saya pun tidak tahu, apa isi jawabanmu. Mungkin, ada beraneka kesan serta persepsi yang tersimpan di dalam sanubari para saudara.
Sepintas, membaca judul ini, mungkin dapat bermakna, bahwa sikap serta tindakan kita sebagai manusia serba asal-asal. Di sana, tidak ada keseriusan di dalam bersikap. Kita, dikesankan, cuma numpang lewat. Bisa juga bermakna, ini hanya sebuah statemen informatif, bahwa kita
ini memang, tidak akan berlama-lama atau bahkan menetap di tempat ini.
Ya, saudara benar! Kita, memang tidak akan berlama-lama, dan apalagi menetap abadi di sini, di dunia fana ini. Tidak!
Lewat tulisan ini, penulis maksudkan, bahwa kita, sang manusia ini, sungguh, hanyalah makhluk pengembara di dunia ini.
Apakah hal ini dapat bermakna, bahwa kita ini adalah peziarah asing? Ya, kita ini memang pengembara asing yang sekadar melancong.
Tulisan ini, lebih bersifat serta bermakna โrohani spiritualโ. Ini adalah sebuah kesadaran yang tersimpan dan bahkan mengalir deras di dalam hati sang manusia selaku pengembara dina papa ini.
Saya pun teringat akan tiga buah pertanyaan abadi, setua usia sang manusia.
Sang manusia, siapakah engkau? Dari manakah engkau datang? Dan, hendak ke manakah engkau pergi?
Pertanyaan reflektif spiritual ini, ternyata sudah tersimpan erat rapi di dalam sanubari kita. Bahkan, hal ini sudah menjadi sebuah kesadaran permanen yang entah, sungguh disadari atau pun tidak oleh sang manusia itu.
Bahkan pernah, ada sang arifin yang melontarkan statemen jitu ini, bahwa “barang siapa yang dilahirkan ke atas bumi, maka dia, siap untuk menerima sebuah risiko, โkematiannyaโ.
Saudaraku, di dan dari balik refleksi isi tulisan ini, tersimpan pula sebuah makna serta amanat agung.
Wahai, sang manusia, sadarilah selalu dan senantiasa, bahwa bumi ini serta isinya, bukanlah milikmu. Sesungguhnya, kamu, memang tidak memiliki apa pun di sini. Kamu hanyalah seorang pengemis bernurani serta berkesadaran. Sekalipun kamu telah diciptakan segambar serupa dengan Sang Tuhan.
Ketika kamu turun dari rahim ibumu, kamu bertelanjang bulat, dan kelak, saat kembali ke pangkuan bunda bumi, kamu pun hanya dililiti seutas kafan hitam.
Engkau berasal dari debu tanah, maka engkau pun akan kembali menjadi debu tanah!
Semoga, engkau dan aku, kita, sudi meninggalkan segala sesuatu yang sekadar menjadi hiasan hidup di jalan ziarah ini. Biarkan diri kita bebas untuk berlangkah.
…
Kediri,ย 25ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

