Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | Setiap kali membaca kisah tentang penabur benih, saya ingat kembali dengan Bapak, seorang katekis sederhana yang berkeliling dengan sepeda tuanya.
Segar dalam ingatan saya, Bapak menyusuri jalan dari desa yang satu ke desa yang lain untuk mencari umat Katolik.
Bapak mengajar mereka yang ingin menjadi orang Katolik dan mendampingi mereka dengan setia.
Bapak menuntun mereka untuk tetap menjadi orang-orang Katolik yang setia.
Jika mengenang kisah itu, saya merasa bangga, bahagia, dan terinspirasi oleh Bapak hingga saat ini.
Itulah sebabnya, saya ingin menjadi seorang penabur benih Sabda Tuhan di tengah dunia ini, di mana pun aku berada.
Saya tidak berkeliling naik sepeda seperti Bapak, tapi mewartakan lewat perutusan sebagai seorang Misionaris Dehonian di Hong Kong.
Aku tidak mencari umat Katolik, aku menerima dan melayani umat di St. Thomas The Apostle Parish, Tsing Yi.
Saya berjalan bersama dengan mereka untuk saling menguatkan dalam iman dengan semangat ‘Synodality’ (sinodalitas).
Sesungguhnya, seorang penabur itu tentu sudah tahu konsekwensinya.
Sebagai seorang penabur, Bapak komitmen dengan jalan yang dipilihnya, meski ada yang tidak menanggapi. Ada yang kemudian tidak bertahan (tidak sedikit yang pindah jalan). Bapak juga pernah terancam nyawanya, karena dicegat perampok dan bertarung dengan mereka. Tapi ada pula yang mengenang sebagai seorang Katolik yang baik.
Semangat, komitmen, dan kesetiaan Bapak itu tetap saya jaga dan menjadi inspirasi saya.
Memang, semangat Sang Penabur itu akan terus menaburkan benihnya: Di jalan, tanah yang berbatu, di tanah yang kemudian tumbuh semak berdurinya dan di tanah yang baik.
“Apakah kita ingin menjadi seorang penabur juga lewat lahan yang sudah kita temukan?”
Mari, kita tetap semangat menjadi seorang penabur benih Sabda Tuhan di mana pun kita berada.
Rm. Petrus Santoso SCJ

