Red-Joss.com – Dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Itu profesi yang tengah saya rintis untuk dijalani dan tekuni.
Turun gengsi atau malu? Oo, tidak! Saya tidak pernah malu mengakui, apalagi menyembunyikan profesi saya yang sebenarnya.
Sejak dulu saya selalu bangga, apa pun bidang usaha yang saya tekuni itu. Alasan saya sederhana, talenta dan bakat itu anugerah Allah. Sehingga kelebihan itu harus saya gali secara maksimal agar berguna bagi orang lain.
Ketika saya membaca renungan dua orang bersaudara Simon Petrus dan Andreas yang dipanggil Yesus, dari nelayan untuk menjadi penjala manusia (Mat 4:18). Mereka tidak bertanya, tapi langsung percaya dan mengikuti-Nya.
Tiba-tiba hati saya berdesir. Saya ingin mengikuti jejak Simon Petrus dan Andreas. Tapi profesi apa yang cocok untuk saya di senja usia ini?
Saya ingin mengembangkan bakat menulis yang sudah lama saya tinggalkan, karena usaha dagang yang saya tekuni itu telah menyita waktu dan energi. Kini, usaha itu mulai dijalankan oleh anak-anak. Sehingga saya mempunyai banyak waktu luang.
Setia dengan Profesi
Profesi pedagang itu saya ibaratkan penjala ikan, dan sudah saya tekuni lebih dari 25 tahun. Apakah saya mampu jadi penjala manusia lewat menulis, dan usaha itu menjajikan?
Seorang keponakan saya, Dewi mengomentari, “Pakdhe, apa untungnya menulis di blog, karena jangkauannya rendah, pembacanya sedikit, dan tidak ada hasilnya…”
Saya tersenyum, tidak menanggapi. Tapi saya percaya, sesungguhnya membangun menara kepercayaan itu dimulai dari hal yang kecil dan remeh temeh.
Prinsip saya adalah, setiap orang yang bisa dipercaya dalam hal-hal kecil juga akan bisa dipercaya dalam hal-hal besar.
Sama saat sebagai pedagang kecil, saya memulai hal itu dengan ke luar masuk kampung. Bahkan dari toko sembako yang belanja kiloan. Tapi saya melayani semua pelanggan itu dengan sukacita dan tanpa beban.
Apa pun bidang usahanya, modal untuk sukses adalah setia pada profesi, bertekun dalam doa, dan fokus. Hasilnya, Allah yang menyempurnakan semua itu.
Sewaktu berdagang, saya tidak sekadar mencari pelanggan kelas kakap, tapi juga rezeki dari eceran. Bahkan, dengan berbagi trik bisnis pada mereka, saya melakukan promosi dari mulut ke mulut, sehingga pelanggan berdatangan.
Begitu pula sebagai penulis blog pribadi, saya melakukan semua itu tanpa beban. Tapi saya komitmen, konsisten, dan fokus agar blog itu bermanfaat bagi sesama.
Sesungguhnya rezeki itu tidak sebatas berupa materi, tapi, juga kesehatan, kebahagiaan, persahabatan, dan hidup berkenan bagi Allah.
Teruslah berbagi dan menginspirasi, karena anugerah Allah sumber hidup bahagia.
…
Mas Redjo

