| Red-Joss.com | Berbincang dengan Pak Mardi jam 08.00 pagi ini hanya ‘nlesihake’ atau bertanya, karena ada satu plastik hitam berisi sampah masih tergantung di pagar.
Lelaki yang sudah renta usia itu menjawab datar: “Ah, iya, saya sudah tak bisa melihat, kalau warna hitam, suka terlewat.”
Tak perlu dijelaskan sudah amat sangat jelas. Seusia Pak Mardi, jika kondisi ekonominya lebih baik, tak lagi harus menggeliat menarik beban seberat gerobak sampah yang dihelanya saban pagi, seperti di pagi Natal yang dingin ini.
“The true spirit of Christmas resides in the act of giving not getting. It is about giving your care and empathy.” Solider dengan yang lebih lemah seperti Pak Mardi.
Begitulah Allah, melalui Yesus yang dilahirkan di palungan. Solider dengan nasib kita, manusia lemah ini.
“Inggih Pak, besok saya ganti warna merah, ya. ‘Nuwun sewu’, Pak.” Lantas saya menerima uluran tangannya yang glumut dan keriput oleh beban berat, untuk mengucapkan Selamat Natal yang syarat dengan hikmat.
“Terima kasih, Pak Mardi, sudah membantu kami sepanjang tahun ini setiap hari, tanpa keluh dan kesah,” kataku sambil menyelipkan sedikit rezeki untuk jamu Pak Mardi agar terus bertahan
Ya, “Christmas is about giving – to uplift others,” terutama yang berkelas gembala seperti Pak Mardi.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

