“Membaca itu mudah, berceramah itu juga mudah, tapi membumikan ajaran kebaikan yang dibaca, dimengerti, dan diceramahkan itulah yang sulit.”
…
| Red-Joss.com | Tulisan kecil pada instagram penutur keteduhan Gede Prama itu mengingatkanku pada satu ungkapan pendek dalam masyarakat Jawa, “Jumbuh lahir lan batin.”
Secara sederhana ungkapan itu bermakna apa yang kita ucapkan, pikirkan, dan lakukan itu hendaknya merupakan suatu rangkaian yang harmonis dan tidak saling bertentangan.
Sungguh, kita sering kali malu hati untuk mengakui, bahwa tapakan perjalanan hidup kita jauh dari tolok ukur ‘jumbuh lahir dan batin’ itu.
Saya bersyukur, karena di usiaku
yang menua ini aku termotivasi untuk selalu belajar, meskipun harus jatuh bangun. Sekaligus aku juga ingin berbagi yang kupahami itu pada keluarga dan sahabat.
Teringat jelas pengalaman masa kecil, sewaktu Bapak sering mengajakku jalan-jalan. Bapak kerap berhenti membungkuk untuk mengambil paku yang tercecer di jalan, atau menyingkirkan beling agar tidak terinjak kaki.
Bapak kerap berhenti pula untuk menawarkan tumpangan pada orang-orang yang dilihatnya kerepotan dan membutuhkan pertolongan.
Di rumah Bapak juga menyiapkan botol air di kulkas dan ditawarkan pada pengemis yang mampir atau pedagang keliling yang menjadi langganan keluarga.
Saya pernah melihat Bapak sepulang kerja, mengambil kertas dan menulis tulisan besar, “awas lubang.” Ia lalu memintaku untuk melaminating tulisan itu dan menempelkan pada sebatang bambu kecil dan kemudian mengajakku memasangnya pada lubang besar di jalan yang menganga tanpa tanda.
Ketika saya bertanya, kegiatan dan maksud Bapak melakukan semua itu. Seperti mengambil paku, potongan besi, pecahan kaca, memberi tumpangan orang, atau memberi minum pada pengemis.
“Kita belajar untuk berempati, peduli, dan berbagi pada orang lain. Dimulai dari hal-hal sepele dan remeh temeh,” jawab Bapak.
Mengingat pengalaman bersama Bapak, sesungguhnya Bapak mau bercerita melalui hal-hal sederhana yang kita jumpai dalam setiap tapakan kehidupan. Kita tanpa perlu mencari waktu dan tempat khusus untuk dapat belajar membumikan kerinduan ini untuk bertumbuh dalam segala hal yang baik.
Setiap tapakan saat kehidupan adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk dapat terus belajar membumikan segala yang baik itu dan menjadikannya sebagai cerita di buku kehidupan kita.
…
Herry Wibowo

