oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | Jika memang kita sedang tidak bahagia, jangan tampilkan diri ini tampak bahagia. Berkamuflase. Karena justru pada saat itu kita akan terasa sakit, ketika melihat orang lain yang sungguh sedang mengalami kebahagiaan.
Cara menutupi apa yg terjadi pada diri kita, justru mendidik menjadi:
- Seorang penipu
- Seorang pembohong
- Seorang penyangkal
- Dan seorang pengkhianat.
Jika itu dilakukan pada orang lain sangat menyakitkan. Jika tindakan itu dilakukan pada diri sendiri, tidak hanya sangat menyakitkan, tapi akan mengiris-iris hati dan jiwa ini. Sebab kita tidak jujur dengan diri sendiri. Lalu, bagaimana kita bisa mempertanggung-jawabkan hidup ini?
Kita dapat belajar dari kerendahan hati Bunda Maria. Mari kita lihat beberapa kisahnya โฆ
- Saat mendapat kabar gembira, bahwa dia akan mengandung dan melahirkan Yesus. Dia gelisah, dia bertanya, tapi kemudian dia menerima dan percaya. Fiat Voluntas Tua. Ecce Ancilla.
- Saat dia mempersembahkan bayi Yesus di Bait Allah, dia mendengarkan ungkapan Simeon, di mana sebilah pedang akan menembus jiwanya. Dia kaget, tetapi kemudian dia simpan semua perkara itu dalam hatinya dan terus merenungkannya.
- Saat dia mengikuti perjalanan Yesus menuju ke Bukit Golgota. Dia sedih melihat penderitaan Yesus, puteranya. Tapi dia setia dan mendampinginya.
- Saat dia berada di bawah kayu salib, dia terus merenungkan apa yg terjadi semuanya, hingga ia mendengarkan suara, “Ibu, ini anakmu.” Kontemplasi kita mengatakan, jawaban sang Bunda, “Engkau, tetap anakku, di saat bahagia, juga di saat menderita. Engkau, tetap anakku.”
- Saat Dia diturunkan dari salib. Dia dipangku dan dipeluknya. PIETA. Betapa bunda Maria dalam hening menunjukkan cintanya. Dalam kontemplasi kira, “kesedihan dan kasih itu menyatu dalam keindahan PIETA.” Lalu, saat kita melihatnya, yang kita lihat adalah โkasih yang sempurna.โ
Begitulah para sahabat, apa yang bisa kita ekspresikan โapa adanyaโ, tidak selalu membuat kita dan orang lain memandang dengan sebelah mata. Justru, ketika dunia ini bisa menangkap kisah kita, maka kisah kita itu akan masuk ke hati setiap pribadi. Lalu, semua kisah, yang bahagia, juga yang tidak bahagia, akan menjadi kisah yang sempurna juga.
Mari kita semakin tampil dengan kisah-kisah kita. Kita buat kisah-kisah yang kelihatannya biasa ini menjadi kisah-kisah yang sempurna. Kita l tunjukkan kepada siapa pun, bahwa Tuhan terus bekerja dan mencipta kita menjadi indah pada waktunya.
Sebab, siapa pun kita, tetaplah berharga di hadapan-Nya. Harga kita tidak ternilai. Keluhuran kita sempurna.
Ini sumber bahagia kita: Yesus sungguh dekat dan Dia sungguh hebat, dan Dia sungguh mengasihi.
Lihatlah, kasih Bunda Maria jadi sempurna karena kasih-Nya: dari darah-Nya yang tercurah dan oleh bilur-bilur luka-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

