Dalam kisah sengsara, kita menyaksikan Yesus dikhianati, disangkal, dan disalibkan. Dalam situasi seperti itu, Dia tetap mengasihi. Meski tahu penderitaan itu menanti-Nya, IA tetap memilih jalan salib demi keselamatan kita.
Dari lingkaran terdekat, para murid dipanggil untuk menyertai Dia, kita bahkan menyaksikan pengingkaran dan pengkhianatan. Yudas menjual Dia. Petrus menyangkal Dia. Murid-murid lain melarikan diri. Yesus tetap setia. Ia tidak melawan, membalas, tapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.
Di tengah hinaan dan siksaan, Yesus tetap diam. Dari atas salib, Ia masih memikirkan orang lain: mengampuni para penyalib, menerima pertobatan penjahat di sebelah-Nya, dan menyerahkan roh-Nya dengan penuh kepercayaan. Kisah sengsara adalah kisah kasih yang tidak tergoyahkan. Kasih yang memilih untuk tetap tinggal, juga ketika dikhianati dan ditolak. Kasih yang tidak menuntut balasan, tapi memberi diri sepenuhnya. Salib itu bukan akhir cerita. Sebaliknya, salib adalah bukti nyata, bahwa kasih sejati tidak pernah menyerah.
“Ya, Tuhan, ajarilah kami untuk selalu dan tetap setia di jalan salib kami, dan mampukanlah tetap mencintai Engkau dan sesama, walaupun berat. Amin.”
Ziarah Batin

