Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ternyata betapa arifnya sikap hidup guruku dan ayahku.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Dari Tumpukan Kertas Kumal
Inilah kisah seorang pria muda beristri, yang sangat terperanjat, setelah ia menemukan sepucuk surat dari Guru kelasnya yang ditujukan kepada Ayahnya dua puluh tahun silam.
Ia lalu membacanya. Ah, sungguh, betapa ia pun terperanjat, antara rasa malu dan juga sadar, bahwa betapa arif sikap hidup sang Ayah.
Dengan tangan bergetar dan dada berguncang menahan tangis, kini ia tahu dan sadar, bahwa dulu, Guru kelasnya pernah melayangkan sepucuk surat kepada Ayahnya, yang isinya ‘agar sang Ayah sudi mendampingi dan membimbing anaknya, giat belajar. Jika tidak, maka besar kemungkinan kelak ia tidak naik ke kelas tiga SMP.’
Demikian isi surat itu, “Sebagai Guru kelas, saya sangat berharap agar Bapak sudi mendampingi putra Bapak untuk lebih giat lagi belajar. Karena angka-angka ulangannya selalu berada di bawah rata-rata kelas.”
Kini, tidak kusadari, beberapa tetes air mataku, berderai di pipi saat mengenang, betapa agungnya sikap Ayah kepadaku. Mengapa saat itu, Ayahku tidak pernah memarahi dan mengadiliku? Mengapa pula surat yang bernada sangat hitam itu, justru disembunnyikannya?
“Ayah, tapi kini engkau sudah tidak ada di sisiku. Engkau telah jauh di alam seberang. Tapi, aku sungguh kagum pada sikap hormatmu kepada anakmu ini.”
Setelah peristiwa itu, aku segera melipat dan menyimpan rapi surat kumal itu, jauh di dasar lubuk jiwaku. Sumpahku, kelak surat itu akan aku perlihatkan kepada anakku. Agar kelak anakku turut mengetahui akan sikap kelalaianku. Juga, agar anakku turut mengetahui, bahwa betapa mulianya sikap hidup Kakeknya.
Sebuah Warisan Berharga
Kini surat kumal itu, ternyata telah jadi selembar surat paling berharga. Mengapa? Karena bukankah di dalam dan di baliknya, justru tersimpan ‘sejuta nilai luhur kehidupan.’
Juga lewat selembar kertas kumal itu tersimpan sebuah karakter agung dari Guruku. Di balik itu, terseliplah juga sikap kecerdasan emosi dan pemahaman Ayahku yang melampaui kecerdasan intelektual semata. Hal ini bukankah sebagai sebuah warisan yang paling berharga?
Proses ‘Homo Humanus’
‘Homo humanus’ adalah proses pemanusiaan manusia muda. Bahwa proses pendidikan itu pertama-tama, bukan sekadar penanaman sikap pemahaman intelektual semata, namun terlebih pada penanaman nilai-nilai sikap dan karakter mulia. Itulah sasaran sentral dari seluruh proses edukasi.
Orangtua adalah Pendidik Utama dan Pertama
Dari orangtua yang berkarakter mulia dan bersikap brilian, maka hadirlah kuncup-kuncup belia yang berhati mulia serta bersikap brilian pula. Karena bukankah ‘orangtua adalah sang pendidik utama dan pertama?’ Dan dalam konteks ini, maka sungguh tepatlah perumpamaan, ‘buah jatuh tidak jauh dari pohon.’
Pendekatan Pendidikan yang Benar dan Budaya Menghargai Proses
Maka sungguh benar, jika dikatakan, bahwa ‘sungguh penting, bagaimana proses pendekatan’ di dalam proses pendidikan anak. Karena bukankah proses itu adalah sebuah ‘cara atau jalan’ yang dilewati saat proses pendidikan itu tengah berlangsung?
Maka, orangtua dan pendidik yang hebat adalah mereka yang memiliki budaya menghargai proses dan tidak sekadar berorientasi pada hasil yang diperoleh.
Penutup
Akhirnya, sebelum mengakhiri tulisan ini, hendaklah kita menyadari akan ketokohan dari kedua sosok sentral, yakni “Guru kelas yang berbudi luhur dan Ayah yang berkarakter mulia.”
Bukankah dari sebuah dapur yang komplet itu akan hadir anak-anak didik yang juga komplet?
Kediri, 30 Juli 2025

