| Red-Joss.com | Ketulusan adalah kedalaman, kecerdikan adalah kebijaksanaan.
Sebagai murid-murid Tuhan Yesus, kita diutus untuk menjadi pribadi yang tulus (punya relasi yang dalam) dan cerdik (punya kebijaksanaan).
Efek dari ketulusan (relasi yang dalam) adalah rasa kedekatan dan kenyamanan.
Efek dari kecerdikan (kebijaksanaan) adalah kreativitas dan mudah menyesuaikan diri.
Keduanya mesti tahan uji dalam segala situasi dan kondisi.
Sejatinya relasi manusia itu unik. Relasi antar pribadi itu juga istimewa. Sedang relasi yang baik akan menempatkan kita menjadi pribadi-pribadi yang istimewa.
Seorang pribadi dengan pribadi yang lain bisa menemukan keistimewaan yang satu dengan lain, karena ada perjumpaan, persahabatan dan pengenalan dari kebiasaan hidupnya.
Setiap pribadi itu bisa memberikan penilaian atas persahabatan atau pengenalannya, setelah di kedalaman hatinya merasakan kedekatan dan rasa nyaman.
Biasanya, kedekatan dan kenyamanan itu terus berkembang makin mendalam di hari-hari selanjutnya.
Pada akhirnya, pribadi yang memberikan kedekatan dan rasa nyaman ini disebut sahabat. Setiap sahabat mempunyai tempat istimewa di hati untuk menerimanya dengan tulus.
Sedangkan kecerdikan (kebijaksanaan) adalah kecerdasan atau keterampilan dalam berelasi.
Pribadi manusia itu tidak bisa diketahui 100% oleh pribadi yang lain. Yang bisa mengenal 100% adalah Sang Penciptanya.
Maka, sifat perubahan, keterkejutan dan rasa penasaran itu akan sering dialami. Sedang perubahan yang dinamis, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus bisa diikuti agar kita dapat menyesuaikan diri dengan perubahan itu.
Mengenal satu pribadi itu menghabiskan banyak waktu, bagaimana dengan pengenalan pribadi dalam jumlah banyak?
Bagi pribadi yang tidak cerdas dan tidak terampil dalam berelasi pasti mudah menimbulkan banyak konflik, baik lewat perkataan, sikap, dan tindakannya.
Selain itu juga mudah menimbulkan perbedaan, dimulai dari nilai-nilai yang dihidupinya dan pengaruh dari komunitas yang dibangunnya.
Yang tidak cerdas dan tidak terampil dalam berelasi tentu akan mudah menciptakan permusuhan: dimulai dari kebiasaan, provokasi dan gerakan-gerakan yang mengikutinya.
Itulah sebabnya, di tengah-tengah dunia yang ganas ini (seperti di tengah-tengah serigala), Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya untuk memberikan warna yang lain, yaitu ketulusan (relasi yang mendalam)) dan kecerdikan (kebijaksanaan hidup).
Tantangan murid Tuhan Yesus dan tugas perutusan yang diberikan oleh-Nya sangat tidak mudah, tapi Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita.
Karena itu terapkan pesan Tuhan Yesus. Dengan ketulusan dan kecerdikan agar kita selamat di tengah keganasan sekumpulan serigala (= keganasan dunia).
Pada akhirnya, keganasan serigala itu harus takluk dengan ketulusan merpati dan kecerdikan ular, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah hadir di tengah dunia.
Tujuan Sang Guru yang lemah lembut dan rendah hati mengutus agar kita menjadi saudara, teman, dan sahabat yang istimewa. Sehingga kita sungguh menjadi pribadi yang istimewa pula.
Menurut St. Theresia Lissieux, “Segala sesuatu adalah rahmat.” Maka, temukan rahmat istimewa itu dalam tugas perutusan kita membangun relasi yang baik dengan sesama. Amin.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

