“Lain ladang lain belalang, beda orangtua dulu dengan sekarang. Ketika orangtua sekarang hilang kepeduliannya pada anak.” -Mas Redjo
Saya tidak mau berpolemik, atau terseret ke dalam perdebatan pro dan kontra mengenai siswa yang ditampar oleh Kepsek, hingga berujung Kepsek itu dinonaktifkan. Alasannya, saya pernah bersekolah dan saya adalah Ayah dari tiga anak laki-laki.
Dulu, ketika saya bersekolah, tidak sekali-dua saya dihukum oleh Guru. Karena kuku tangan panjang dan kotor, jari saya dipukul dengan penggaris. Saya pernah dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran Bahasa Inggris oleh Buder, karena nilai saya jelek. Tujuannya agar saya belajar untuk memperbaiki nilainya. Bahkan, karena berkelahi dengan teman sekelas, kami berdua dihukum Guru untuk mengosek WC.
Karena dihukum mengosek WC, saya bercerita, atau tepatnya mengadu kepada orangtua. Apa reaksi Ayah?
“Sekolah itu tidak untuk ajang tawuran, Le. Tapi menimba ilmu dan belajar disiplin. Jika kau bersalah itu dihukum, ya, wajar,” jawab Ayah enteng dan tanpa emosi.
Begitu pula, ketika mulut anak saya ditampar oleh Gurunya. Lebih dulu saya bertanya pada anak minta penjelasan, karena mulutnya tidak berdarah atau memar. Saya datang ke sekolah ingin mengetahui duduk hal yang sebenarnya.
Jika anak bandel atau kurang ajar, sebaiknya orangtuanya dipanggil dulu ke sekolah untuk diajak bicara dan diingatkan dalam mengawasi anak. Tapi ditampar?
Ternyata anak saya tidak ditampar seperti cerita santer yang beredar di luar, tapi dipukul perlahan. Karena berkata-kata jorok di dalam kelas.
Hikmah dari peristiwa itu adalah, kita tidak boleh langsung percaya kabar burung dan lepas tangan untuk menyerahkan pendidikan itu sepenuhnya pada Guru di sekolah, tapi kita juga harus mengawasi pergaulan dan teman-teman anak di luaran.
Kepedulian pada anak semestinya dibangun dari rumah lewat unggah- ungguh, keteladanan orangtua, dan kedisiplinan membiasakan hal-hal baik untuk membentuk karakter anak. Tidak sebaliknya, orangtua itu hilang rasa peduli dan mengumbar anak jadi tidak karuan, sehingga kita melepas peran dan tanggung jawab sebagai orangtua.
Semoga peristiwa Kepsek yang menampar muridnya itu jadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk mengambil hikmahnya. Kita berani untuk mengedepankan kerendahan hati agar makin bijak dalam menyikapi permasalahan; tidak memviralkan aib demi mencari popularitas, tapi menampar muka sendiri.
Mas Redjo

