Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Dari Jauh Kupandang
Dari jauh diam-diam kupandang
takut tak sanggup tahan duka
Kamar tua ini pun larut dalam waktu
Aku pun terkenang
di pojok sana ayah biasa duduk memandang langit
Kini
semua terhalau detak waktu
ayah bunda di mana tersimpan kenangan masa laluku
(Pada Sepotong Catatan)
…
| Red-Joss.com | Mari sejenak kita belajar untuk merefleksikan alur hidup ini. Kita, berasal dari sebuah rumah di sebuah tempat, entah di mana. Kita, berayah bunda, dan bersaudara.
Biasanya, di saat rindu datang menggayut hati, kita pun merasa ada sesuatu yang sirna, entah siapa dan ke mana.
Ya, itulah sebuah alur hidup dan kehidupan ini. Cepat atau lambat, semuanya akan berubah, entah perlahan, drastis, atau menyakitkan.
Ada perasaan dan kenangan yang tersimpan di dada ini. Ada rasa duka menyayat, ada juga kenangan yang menggoda serta tak mudah terlupakan. Tapi, ada juga ingatan yang menusuk duka dada, pedih tak terperikan. Itulah sebuah kehidupan yang beralur lurus menuju liang kubur.
Biasanya kenangan itu akan melekat pada kerut wajah ayah serta jidat bunda berduka. Ada juga lagi suara marah abang sulungku yang mengamuk kelaparan. Tapi, kadangkala kami juga dihibur ciap anak ayam dan lenguh sapi tetangga entah kehausan atau mungkin juga kelaparan.
Kini, semua kenangan itu terbang, entar hinggap di dahan yang mana?
Ketika kita beranjak dewasa dan bahkan menua, tentu sang ayah bunda pun telah tiada, terkubur di bawah alam sadar, walau gundukan tanah duka tertatap nyata. Wahai di manakah semua milik kita?
Lewat gerbang renungan reflektif ini, sesungguhnya kita diajak untuk berani bersumpah, bahwa “semuanya ini, sekali kelak takkan kita bersua lagi.” Alam bawah sadar kita telah rela mengapannya di dalam rahim bunda bumi.
Tuhan Sang Maha Rahim, ajari kami, untuk mampu menyadari, bahwa sesungguhnya, kehidupan ini pun hanyalah sekilas bayang yang tak pernah menjadi nyata.
“Kita berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu tanah.”
…
Kediri, 9ย Septemberย 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

