| Red-Joss.com | Sedih dan miris! Itu reaksi pertama saya, ketika seorang anggota grup WA mengomentari tulisan saya, bahwa “kasih yang tulus ikhlas, kerendahan hati, dan tahan uji itu nggak ada…”
Betapa gersang jiwa orang itu! Sesungguhnya orang yang paling menderita itu, ketika tidak dicintai! Mungkinkah ia tengah berkonflik dengan keluarga, atau…?
Sesungguhnya hati saya tergerak ingin tahu orang itu untuk tanya pada adminnya. Karena komunitas itu telah saya tinggalkan sejak puluhan tahun lalu. Sehingga saya tidak kenal banyak anggotanya.
Tidak mau didera penasaran, niat itu segera saya buang jauh. Orang itu mau berkomentar, menanggapi, menolak, atau bahkan menghujat itu juga bebas. Sebagai penulis saya harus berjiwa besar.
Entah karena apa, tiba-tiba saya ingat kisah seorang teman, YS yang menganggur akibat perusahaan tempat kerjanya bangkrut. Sejak itu ia jadi pemurung, mudah emosi, dan stres.
Ketika saya dan teman berkunjung ke rumah YS, ia berusaha untuk menghindar, bahkan menjauhi kami. Alasan kami sekadar lewat, lalu mampir.
Kami ngobrol hal yang umum. Dari istri YS, kami banyak tahu sebab perubahan suaminya. Sejak mengganggur, ia merasa sekadar merecoki, merepoti, dan tidak bisa membahagiakan keluarga.
Kami maklum, jika hati YS terpukul. Apalagi pesangon dari perusahaan yang tidak banyak itu cepat habis. Ia juga selalu gagal memperoleh pekerjaan baru. Bersyukur, istri YS pandai membuat kue basah untuk dititipkan ke warung-warung guna menopang kebutuhan keluarga.
Sebelum pulang, kami memesan kue pada istri YS. Tidak berhenti di situ, kami juga mempromosikan kue buatan istri YS ke grup pertemanan maupun relasi kantor.
Tujuan utama kami adalah ingin memberdayakan keluarga YS, sekaligus ingin mengembalikan rasa percaya diri YS. Bahwa kami tidak lupa atau meninggalkannya. Di hati kami selalu ada kasih untuk keluarganya.
Selalu membuka hati agar kami miliki semangat peduli dan berbagi pada sesama.
Mas Redjo

