| Red-Joss.com | Sederhana, pemandangan itu biasa dan tampak sepele. Tapi mengusik perasaan, hati nurani ini. Kecewa, sedih, kesal, dan sekaligus jengkel.
Bagaimana tidak.
Coba perhatikan dengan seksama. Seorang Ibu/Ayah mengambilkan mainan anaknya dengan menjepit (maaf) menggunakan jari kaki!
Lho, itu hal biasa! Kita juga pernah, sesekali, atau sering kali melakukan hal itu.
Sekali lagi, maaf. Hal itu sangat tidak elok dilakukan dan dibiasakan oleh siapa pun dan dengan alasan apa pun!
Tidak karena alasan kita sedang makan, anak menjatuhkan mainan itu melulu, atau lagi menyuapin anak. Sehingga kita takut tangan ini jadi kotor.
Stop semua alasan itu! Tidak ada gunanya kita mencari pembenaran diri. Lebih bijak, jika menggunakan logika dan etika.
Kita tentu ingat dengan jelas dan gamblang. Ketika kecil kita pernah diberi contoh oleh orangtua agar tangan kanan digunakan untuk makan dan melakukan hal positif, dan tangan kiri digunakan untuk cebok. Kita memberi apa pun menggunakan tangan kanan. Jika diberi sesuatu dengan tangan kiri, kita merasa kurang dihormati, dan sebagainya.
Hal-hal yang baik, jika diterapkan, dibiasakan, dan didisiplinkan pada anak sejak kecil, semua itu baik adanya. Karena, sesungguhnya semua itu berpulang pada diri sendiri untuk mengajar dan mendidik anak agar hal-hal baik, sopan santun, dan etika itu terpatri dalam pikiran dan perilaku anak.
Begitu pula saat sedang menyuapi anak. Sejak semula kita ingatkan pada anak untuk fokus makan agar tidak tersedak, jika mainan jatuh agar diambil sendiri, dan seterusnya. Modal kita adalah telaten, sabar, dan cekatan. Anak lama kelamaan jadi terbiasa dan paham dengan etika kesopanan itu.
Jadi, ketika kita mengambil suatu barang menggunakan kaki sebagai penjepit, hal apa yang terpikir pertama kali oleh kita?
Sesungguhnya, kita tidak hanya melanggar norma kesopanan, tapi kita juga tidak menghormati, menghargai, mensyukuri, dan berterima kasih pada Allah yang anugerahi hidup ini!
Apakah pernah terpikir, jika tidak mempunyai tangan tentu kaki itu yang bakal kita gunakan untuk mengambil barang atau melakukan aktivitas lainnya. Faktanya, kita lahir normal dan memiliki tubuh yang sempurna.
Kita seharusnya juga malu kepada mereka yang cacat, karena tidak memiliki tangan, atau anggota tubuh yang lainnya.
Stop semua alasan untuk pembenaran diri itu!
Saatnya dan untuk seterusnya kita manfaatkan semua anugerah Allah itu agar berguna dan bermakna untuk sesama. Sekaligus sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kita kepada-Nya.
Hidup berkenan bagi Allah.
…
Mas Redjo
…
Foto iluatrasi: Istimewa

