“Keterbiasaan dapat menumpulkan iman, tapi kerendahan hati
memulihkan rasa kagum.”
Yesus datang ke kampung halaman-Nya sendiri. Ia seharusnya paling diterima, tapi iman tidak menemukan rumah di sana. Justru Ia ditolak.
Yesus masuk ke rumah ibadat
dan mengajar dengan hikmat yang mengagumkan, dengan wibawa yang menggugah hati. Orang-orang heran, tapi kekaguman itu tidak sempat bertumbuh jadi iman.
Yang mereka lihat hanyalah yang terasa biasa: seorang tukang kayu, anak Maria, yang tumbuh besar di tengah mereka. “Dari mana orang ini memperoleh semua itu?” Tanpa disadari, kesombongan itu menutup hati mereka.
“Seorang Nabi tidak dihormati di tempat asalnya sendiri,” kata Yesus.
Bukan karena kebenaran tidak hadir, melainkan karena rasa terlalu akrab menolak untuk mendengarkan.
Bapa, penolakan ini bukan hanya milik mereka. Kami pun perlu bercermin diri.
Seperti Daud, kami sering bersandar pada perhitungan dan kebijaksanaan kami sendiri, sehingga lupa, bahwa hidup ini sepenuhnya ditopang oleh kerahiman-Mu. Seperti Pemazmur, kami belajar; kadang dengan cara yang menyakitkan, bahwa kebebasan sejati dimulai saat kami berhenti bersembunyi dan berkata, “Aku mengakui dosaku di hadapan-Mu.”
Tanpa iman, kami gagal melihat yang sejak awal telah Engkau tanamkan dalam diri kami: citra dan rupa-Mu sendiri. Jejak tangan-Mu ada pada tubuh kami, hembusan napas-Mu menghidupkan kami,
dan kerinduan akan Engkau tersembunyi di dalam setiap jiwa.
Namun kerinduan itu redup bahkan padam, ketika kami lebih percaya pada diri sendiri daripada kepada-Mu.
Bapa, hal ini pasti melukai hati Yesus; dipertanyakan, diberi label, disingkirkan, bahkan dikeluarkan dari tempat yang seharusnya jadi ruang doa dan perjumpaan. Rumah ibadat berubah jadi tempat penolakan, bukan pertemuan.
Kami juga bisa jatuh ke dalam jebakan yang sama.
Kami menerima Ekaristi; sederhana, kecil, akrab, namun lupa bahwa Ia sungguh hadir: Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keallahan-Nya. Kami sering menyebut nama-Nya, namun tidak lagi bergetar di hadapan misteri-Nya.
Ampunilah kami, Bapa, karena menyamakan kedekatan dengan iman, rutinitas dengan relasi, pengetahuan dengan penyerahan diri.
Lunakkanlah hati kami. Pulihkan kembali rasa kagum kami. Biarlah kami memandang Yesus kembali. Bukan sebagai ‘orang ini’, melainkan sebagai Tuhan yang mengenal kami sepenuhnya dan tetap mengulurkan tangan-Nya.
Perbaruilah kami oleh kerahiman-Mu agar kami menghormati-Mu dengan segenap budi, dan mengasihi sesama dengan ketulusan hati.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

