Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Terpujilah wahai engkau
Ibu Bapak Guru, engkau
patriot pahlawan bangsa,
tanpa tanda jasa.”
(Hymne Guru)
Guru adalah Obor Penyuluh
“Guru adalah lentera, cahayanya menyinari tanpa sekat, sehingga murid terhindar dari kegelapan. Guru adalah tempat bertanya, ketika orang tidak tahu. Guru adalah solusi, ketika problematika membelit kehidupan.” Demikian paragraf pertama tulisan Yes Sugimo, dalam Opininya, Surat kepada Redaksi, harian Kompas, Senin, (15/9/2025), berjudul, “Ketika Guru Korupsi.”
Guru adalah Segalanya
Selanjutnya beliau mendeskripsikan, bahwa Guru adalah ‘sumber ilmu dan spirit kehidupan.’ Karena baginya, bukankah semua profesi hidup yang ada di atas bumi ini, karena jasa Guru? Sekalipun nasib Guru di negeri ini tidak secemerlang sebutir mutiara, namun dialah sang inspirator yang paling dihargai para muridnya.
Ditulisnya juga, bahwa bukankah Guru adalah ‘jembatan,’ kala ilmu masih tersimpan rapi dalam dokumen tebal dan tertutup rapat yang tergembok birokrasi bergengsi? Bukankah karena ‘jasa’ Guru, maka kini orang-orang bisa menikmati hidup bahagia dan mampu menata kehidupannya?
Baginya Guru juga sebagai ‘pedoman,’ yang sanggup mengarahkan jalan hidup para muridnya. Selain sebagai pedoman, Guru digelari sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa. Profesi Guru itu sungguh mulia.
Jika Guru Korupsi?
Bukankah tindakan ‘korupsi’ adalah sebentuk pengkhianatan terhadap kehidupan? Korupsilah si penghancur dan pembusukkan hidup manusia justru dari dalam. Kesengsaraan dan kemiskinan adalah buah-buah paling ranum sebagai ekses negatif dari tindakan korupsi itu.
Maka, aneka permasalahan bangsa ini: anak putus sekolah, anak jalanan, gedung sekolah roboh yang dibiarkan terbengkalai, dan ketiadaan akses jembatan yang memadai menuju ke sekolah-sekolah adalah buah-buah dari kejahilan tangan serta hati para tikus bangsa ini.
Ketika di negeri ini mulai berlaku praktik hidup yang mau menganakemaskan para mantan koruptor, justru di sinilah letaknya titik kehancuran bangsa ini ke depan.
Dalam paragraf terakhir opininya, Yes Sugimo menuliskan demikian:
Ketika Guru korupsi, perilakunya bertentangan dengan budi pekerti yang diajarkan di kelas setiap hari.
Ketika Guru korupsi, dinding sekolah mendadak sunyi, tidak menggaungkan tertawa khas anak-anak yang bangga membangun cita-cita melambung tinggi.
Ketika Guru tidak malu korupsi, mendadak saya sensi dan bertanya, dari mana kita membangun mental sehat negeri ini?
Jika para Guru ikut-ikutan korupsi, maka sebagai sebuah bangsa, kita ibarat sedang menggali sebuah kuburan massal!
Non multa, sed multum
(Bukan jumlahnya, tapi mutunya)
Kediri, 16 September 2025

