| Red-Joss.com | Sesekali, bahkan tak ada salahnya, jika dicoba. Ketika berdoa itu tidak meminta, tapi mewujudkannya ke dalam tindakan nyata.
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7: 7-8).
Benar! Tapi, karena kita sadar diri, bahwa kita ini orang berdosa yang tidak layak untuk meminta. Apalagi untuk menuntut.
Kita seharusnya bersyukur, karena dianugerahi hidup. Kita diberi talenta dan bakat untuk dikelola dengan baik agar kita menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab kepada Allah.
Sadar diri, tidak ingin merepotkan orang lain, dan mandiri di atas kaki sendiri adalah alasan utama saya mengarahkan impian dan harapan itu ke dalam tindakan nyata.
Sekali lagi, sadar diri, karena jauh dari keluarga maka saya berjuang untuk mandiri. Kebiasaan mandiri itu pula yang membuat saya tidak mengeluh dan protes menghadapi hidup ini, meskipun terasa pahit. Saya juga membiasakan diri untuk bersyukur, sehingga yang pahit itu jadi nikmat dan menyehatkan jiwa.
Ketika menghadapi benturan demi benturan dalam mewujudkan mimpi itu, saya tidak menyerah, tapi hanya ingin memberikan yang terbaik dari kemampuan saya.
Ketika ditipu oleh rekan bisnis yang kabur membawa barang dagangan atau sahabat yang khilaf oleh uang. Saya tidak langsung reaktif untuk menghakimi, karena saya percaya hukum tabur tuai. Semua itu urusan mereka dengan Allah.
Begitu pula dengan tetangga RT yang menyerobot rumah yang telah saya beri panjar untuk dibeli itu, sehingga batal.
“Malu ribut dengan tetangga. Dia lebih membutuhkan dari pada kita,” kata saya pada istri, santai dan tanpa emosi.
Dalam situasi berat dan sulit, saya tidak bimbang atau meragukan kebaikan Allah. Saya percaya IA memahami kebutuhan saya, bahkan selalu memberikan yang terbaik.
Berani untuk memberikan yang terbaik dari hidup kita, niscaya pintu kemudahan itu akan terbuka.
…
Mas Redjo

