Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[ Red-Joss.com ] Disalahkan, ketika tidak bersalah, kita melawan! Disalahkan ketika benar, menjelaskan. Disalahkan ketika tidak jelas, meminta klarifikasi.
Disalahkan, ketika salah, menerima! Disalahkan, ketika tidak benar, minta maaf. Disalahkan, ketika jelas kesalahannya, memperbaiki diri.
Kesalahan itu bisa menjadi ‘ruang untuk belajar’. Kesalahan bisa menjadi titik berangkat untuk sebuah perubahan. Kesalahan bisa menjadi kesempatan untuk pembuktikan diri menuju kepada hidup yang baru.
Jika kita bersalah, tapi saling menyalahkan, maka persoalan itu tidak akan selesai. Kita hanya merasa kalah dan merasa memang, tapi babak pertarungan itu tetap ada. Meskipun sang wasit sudah pulang, juri tidak ada, dan penonton sudah pulang. Keduanya tetap mau bertarung di ring tinju pertandingan.
Ketika kita bersalah, tapi tidak mengakui kesalahan, persoalan itu juga tidak akan selesai. Pertarungan menjadi tidak imbang, karena jelas-jelas tidak bisa melawan. Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat bendera putih tanda menyerah dan berdamai.
Sesungguhnya, kesalahan demi kesalahan itu ada di tengah kita, keluarga, komunitas dan masyarakat. Budaya mencari kambing hitam demi kepuasan itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru yang terjadi, topeng kemunafikan itu akan dibuka, dan setelah dibuka, ternyata sumber utama dari semuanya adalah kebohongan.
Jika kita berbohong, jangan suka menyalahkan. Jika kita tidak jujur, jangan mencari-cari kesalahan. Jika kita yang sebenarnya bersalah, jangan mencari orang lain untuk disalahkan. Kita salah besar, dan hidup pun jadi tidak tentram.
Berani mengakui sebuah kesalahan itu bukan suatu kesalahan. Saat kita bersalah, dan pribadi yang pernah menerima kesalahan itu mengampuni, maka kita perbaiki diri untuk hidup baru. Rangkul kembali pribadi yang kita kasihi itu. Sebab, sisa waktu yang diberikan oleh Tuhan tidak untuk menyembunyikan kesalahan, tapi ‘melepaskannya’ agar kita hidup dalam damai.
Kita juga jangan menutup telinga, ketika disalahkan, tapi harus kita hadapi sebagai seorang satria. Dia, mereka itu bukan musuh, melainkan pribadi yang kita kasihi. Percayalah, kita masih punya hati untuk saling mengampuni, ketika salah satu dari kita ada yang bersalah. Karena setiap pribadi itu rindu untuk diampuni.
Rm. Petrus Santoso SCJ

