Red-Joss.com – “Kebaikan dan kebenaran itu tidak perlu diperdebatkan, tapi harus disuarakan dan diperjuangkan, karena ketetapan itu milik Allah.”
Ketika ada umat dilarang ibadah kebaktian di rumah sendiri dan jadi viral, saya tidak kaget. Saya juga menyikapi hal itu biasa-biasa saja. Alasannya, karena ada tertulis:
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa dunia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu.”
Saya ingat, ketika belum lama saya pindah ke kota T pada akhir 1999. Ada umat yang dilarang mengadakan sembayangan di rumahnya. Ketika warga itu bertanya alasannya, ia malah disuruh pindah rumah kontrakan.
Prihatin, ironis, dan menyakitkan hati memang. Tapi kita bisa berbuat apa?
Kita memang minoritas. Ketika kita sekadar bertanya hal itu, kita sering ditanggapi secara keliru, disalah-artikan, dianggap melawan, bahkan kita sering dituduh hendak mengkristenisasikan warga sekitar. Lebih konyol lagi, ketika kita peduli dan berbagi pada sesama yang terkena musibah, bantuan itu disia-siakan, bahkan ada yang dibuang.
Mengalah adalah jalan terbaik, karena kita waras. Bukan karena kita kalah atau lemah. Melainkan, kita mengalah agar kita mampu memenangkan melawan ego sendiri, sehingga kita jadi kuat.
Begitu pula, saat kita dilarang beribadah oleh pihak sekolah atau pemangku kepentingan, kita tidak harus melakukan demo. Tapi kita melakukan semua itu secara elegan dan berbudaya sesuai koridor yang benar. Kita juga berdoa untuk mereka menganiaya, karena mereka tidak tahu apa yang diperbuat.
Sekiranya ibadah/sembayangan di rumah itu diizinkan, tapi tidak boleh menyanyi, karena dianggap berisik dan mengganggu lingkungan sekitar, ya kita mengalah. Hal itu tidak masalah atau mengurangi kekhidmatan kita untuk bersyukur kepada Allah. Ibadah itu soal hati, karena kita dikasihi-Nya.
Sekali lagi, jika kita diperlakukan secara tidak adil dalam beribadah atau dipersulit membangun rumah ibadah, jangan berkecil hati, putus asa, dan menyerah. Tapi tanggapi dan sikapi perlakuan mereka dengan lemah lembut, rendah hati, dan sabar.
Sesungguhnya, kebaikan dan kebenaran itu tidak membutuhkan pembelaan, karena ketetapan itu milik Allah.
Teruslah berjuang dengan semangat rendah hati. Percayalah damai sejahtera dari Allah selalu menyertai kita, hingga akhir zaman.
…
Mas Redjo

