Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Secara folosofi, kehidupan adalah sebuah permainan yang diperankan secara dramatis dan kadang
mengejutkan; kepergian dan kehilangan adalah suatu yang alami, walau selalu meninggalkan pertanyaan tentang suatu ketakpastian.”
(Pada Sepotong Catatan)
Kehidupan adalah Sebuah Permainan
Benarkah, bahwa actus kehidupan manusia adalah sebuah ajang permainan? Tentang apa? Siapakah yang memerankannya? Juga bagaimanakah akhir sesungguhnya dari seluruh adegan permainan itu?
Ada Daun-daun Jatuh
Ada
daun-daun rindu gugur berderai serak menyerak menyinggahi rahim bunda bumi
Ada
duri-duri daun kesumat lompat melompat pagut memagut menusuk nusuk sang bunda bumi
Ada lagi
daun kuning, putih, ungu, hijau, dan merah
turut gugur berderai sebelum jelang musim gugur
Kini
meranggas sunyi reranting sang bunda ditinggal pergi buah rahimnya
Dan
bundaku pun keluh bertanya, anak-anakku, mengapa kalian tega berjatuhan?
Fr. M. Christoforus, BHK
Malang, 24 Oktober 2020
Jika kehidupan ini adalah sebuah ajang permainan belaka, berarti, bahwa seluruh aksi dari adegan pentas kehidupan ini bukanlah sebuah kepastian? Di balik sisi yang paling konyol itu, tentu saja ada pihak yang menang dan ada pula yang akhirnya rela membuang handuk, alias kalah dalam pertarungan itu.
Ajang kehidupan yang paling pahit ini ialah hal ‘kepergian dan kematian’, sebagai sebuah realitas yang paling konkret.
Dalam konteks ini, ajang kehidupan ini dapat disimbolkan sebagai dedaunan yang akhirnya akan jatuh berderai, terkulai, dan tidak berdaya. Itulah akhir paling tragis dari sebuah ziarah hidup anak-anak manusia, si dina papa yang sedang mengembara itu.
Ketika dedaunan itu jatuh, maka reranting papa akan ditinggal meranggas, merana, ditimpa angin duka nan perih.
Dalam saat yang paling tragis itu, Bunda Bumi akan selalu lancang bertanya, “Anak-anakku, mengapa kalian tega berjatuhan?”
Hidup pun Mati itu adalah Realitas
Kita tidak dapat mengelakkan diri atau menghindar, tatkala permainan hidup ini sedang berlangsung. Anda dan saya tidak berdaya dalam gairah permainan hidup ini. Karena bukankah kita ibarat badut-badut laknat di hadapannya?
Maka, hadapilah semua realitas dari setiap adegan permainan kehidupan ini dengan ketulusan nan suci. Artinya, dengan ikhlas kita menerima setiap intrik permainan dari balik peristiwa kehidupan ini.
Karena sesungguhnya, Anda dan saya hanyalah insan-insan peziarah yang tidak tahu apa-apa tentang semua misteri dari permainan kehidupan ini.
Konklusi
“Mors ultima linea rerum est”
(Kematian adalah garis batas terakhir dari segalanya).
Kediri, 18 September 2025

