Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sesungguhnya, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh berani untuk berkata, maaf!”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Pandangan Tradisional
Banyak orang sangat mengagumi para pemberani dalam hidup ini. Siapakah sejatinya para pemberani dalam versi mereka?
Biasanya orang-orang sangat mengagumi seorang petinju yang tidak terkalahkan sebagai sang pemberani sejati.
Atau juga pada seorang yang menang melawan musuh bebuyutan, atau juga pada orang yang dapat membunuh seekor binatang buas, misalnya.
Tentu, hampir seratus persen warga masyarakat kita sangat menyetujui, bahwa mereka itu benar-benar dapat dikategorikan sebagai para pemberani.
Pemberani Sejati
Namun, sadarkah kita, bahwa sesungguhnya, orang-orang yang paling berani itu justru mereka yang rela untuk meminta maaf di dalam sebuah pertikaian.
Tapi sayang, warga masyarakat kita sudah terlanjur untuk menganggap dan memberi stempel hitam, bahwa orang-orang yang berani meminta maaf itu, justru sebagai para pengecut kelas kakap.
Mengapa bisa terjadi demikian? Ya, karena warga masyarakat kita lebih mengagumi dan menghargai suatu perjuangan yang bersifat fisik dan tingginya sebuah harga diri.
Padahal sebuah perjuangan yang bersifat dan bernilai psikologis, rohani, dan spiritual itu justru jauh lebih menantang serta menguras energi spiritual sang manusia.
Pengajaran Kasih dan Spiritual
Masih ingatkah kita dengan jawaban telak dari Sang Guru Agung, Yesus Kristus yang telah membombardir tradisi hidup masyarakat kala itu?
“70 x 7!” Itulah jumlah dan kualitas isi sebuah pengampunan yang harus dan terus kita berikan kepada sesama yang bersalah pada kita.
Itulah sahutan Yesus yang paling telak atas pertanyaan, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat salah kepadaku?”
Saya juga sungguh menyadari akan dasyat dan mengharu biru nurani warga masyarakat saat mendengar serta menerima jawaban dari Guru Agung itu.
Tentu, jawaban itu dapat menimbulkan sikap pro dan kontra di dalam masyarakat yang sudah memiliki prinsip hidup, “gigi ganti gigi, serta mata ganti mata,” kala itu.
Padahal, “Gigi ganti gigi, mata ganti mata,” adalah sebuah pandangan dan tradisi hidup masyarakat yang berprinsip pada sikap hidup untuk โmembalas dendamโ.
Ya, itulah jawaban telak yang bersumber dari mulut Sang Kebenaran Sejati: โMengampuni 70 x 7.โ
Inilah keluhuran dan kedahsyatan dari ajaran kasih!
…
Kediri,ย 11ย Juniย 2024

