Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Malu bertanya, sesat di jalan.”
(Peribahasa Bangsa)
Ilmu Haus Nama
Filsafat juga dijuluki sebagai ‘ilmu haus nama’. Mengapa justru demikian? Ya, karena untuk mendapatkan sebuah jawaban yang benar, akurat, mendasar, serta tuntas hingga ke akar masalahnya, maka pendekatan yang digunakannya ialah dengan jalan ‘terus bertanya’ hingga ke radiksnya.
Selain itu juga, karena ilmu filsafat tidak hanya membahas tentang satu bidang ilmu, tapi menyangkut semua bidang keilmuan, antara lain: metafisika, etika, logika, epistemologi, dan estetika. Maka, ia terus akan bertanya.
Ketika Anak Balita Anda Bertanya
Pernahkah Anda di suatu kesempatan berjalan-jalan bersama dengan anak balita Anda yang terus dan selalu akan bertanya? Karena memang dia suka penasaran akan sesuatu hal, maka ia akan selalu mau bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya akan dimulai dengan, “Ini apa? Itu siapa? Mengapa begitu? Di manakah dia? Dari manakah dia? Ke manakah dia?”
Hal itu mau menunjukkan, bahwa anak balita Anda itu sedang berada dalam fase ‘kehausan psikologis’. Maka, ia selalu bertanya tentang segala sesuatu itu. Rasa penasaran dan naluri untuk mengetahui tentang sesuatu itu, menyebabkan dia akan terus bertanya dan bertanya lagi.
Berikanlah Jawabanmu Secukupnya
Hendaknya Anda rela untuk melayaninya dengan kesabaran dan pemahaman. Berikanlah jawabanmu secukupnya dengan singkat dan jelas sesuai daya tangkap dan tingkat pemahamannya. Berusahalah, agar Anda tidak menghardik atau menolaknya. Karena bukankah “manusia itu adalah makhluk yang berakal budi?” (Homo est animal rationale), demikian Severinus Boethius.
Sungguh, berbahagialah anak balita Anda, jika Anda ternyata mampu untuk mengimbangi kehausannya dengan cara mau mendengarkan dan bahkan bersedia untuk menjawabnya.
Bertanya sampai Kapan
“Malu bertanya, akan sesat di jalan,” demikian peribahasa bangsa kita. Ya, sungguh, orang yang mau bertanya adalah pribadi yang ‘terbuka dan selalu penasaran.’ Hargailah pribadi yang selalu penasaran itu. Karena bukankah sikap penasaran adalah awal dari “rasa ingin tahu yang sejati?” Dari sikap penasaran itu, maka akan lahirlah para peneliti dan ilmuwan sejati itu.
Bertanyalah, sampai Anda tidak tahu lagi, bagaimana Anda harus bertanya lagi. Bukankah hal ini berarti, bahwa “sebuah jawaban yang benar, luas, mendasar, dan tuntas” akan mampu menghentikan pertanyaan Anda.
Refleksi
- “Maka, menjawablah dengan baik, benar, tuntas, dan mendasar hingga penanya itu tidak sanggup lagi untuk kembali bertanya!”
Sapere Aude
(Beranilah untuk berpikir sendiri)
Kediri, 27 November 2025

