| Red-Joss.com | “Ya, Allah, karena saya teramat hinakah, Engkau tak peduli padaku? Teramat berdosakah aku, sehingga Engkau menjauh dariku?
Selalu kulafalkan doa sepanjang waktu sebagai silih atas dosaku. Tapi deraan persoalan itu datang menyeret dan menenggelamkanku, hingga tak berdaya.
Ketika seluruh anggota keluargaku memusuhiku. Istri dan anak-anakku melawan aku.
Ya, Allah harus bagaimanakah aku?”
Stop!
Apakah kita pernah alami hal itu? Ketika doa dan harapan itu lenyap. Bukan karena Allah mengabulkan doa permohonan kita, sebaliknya persoalan hidup makin menumpuk. Kita jadi nggap, dan sulit bernafas.
Sesungguhnya, ketika kita alami dan rasakan beban hidup yang memberat itu berarti kita egoistis. Kita sombong dan andalkan diri sendiri.
Padahal ada tertulis dalam Firman Allah, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28-30).
Sesungguhnya, ketika kita berdoa itu, apa yang didoakan dan diharapkan?
Sesungguhnya, doa yang dahsyat itu untuk pujian dan syukur kita pada Allah yang anugerahi hidup ini.
Doa permohonan yang berkenan pada Allah, ketika kita mohon sesuai kebutuhan, tidak sekadar menuruti keinginan dan nafsu semata.
Sekiranya doa permohonan atas dosa, karena sesungguhnya kita ini orang berdosa yang dikasihi Allah. Dengan mengampuni sesama, kita diampuni-Nya.
Sesungguhnya, Allah itu Mahabaik, karena IA selalu mengabulkan doa, bahkan memberikan yang terbaik untuk kita.
Jika doa dan harapan itu belum dikabulkan oleh-Nya. Karena waktu dan rencana kita itu berbeda dengan waktu dan rencana-Nya. Tapi IA selalu menolong di saat yang tepat.
Sesungguhnya, dalam doa itu kita dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar, tabah, ikhlas, dan rendah hati.
“Sesungguhnya, kita diuji untuk taat dan setia pada Allah.”
Alangkah naifnya, jika kita menuntut dan kecewa pada Allah.
Sesungguhnya Allah tidak pernah tinggalkan kita sebagai anak yatim piatu, tapi bahkan IA selalu sertai dan dampingi kita hingga akhir zaman.
Jadi, ketika hidup ini dijalani tanpa rasa syukur dan ikhlas hati, kita bakal kecewa, makin berat, dan sakit hati.
Begitu pula, ketika kita ‘merasa dimusuhi dan seakan anggota keluarga melawan dan menentang kita’, sesungguhnya hal itu datang dari perasaan dan ego sendiri.
Ketika kita berontak untuk menentang dan melawan kata-kata atau argumentasi orang lain, kita belum rendah hati. Karena kita menutup hati untuk mengalah dan memahaminya. Untuk melihat sisi positif dan hal-hal yang baik itu.
Sesungguhnya, ketika orang lain tidak mau berubah, alangkah bijak, jika kita yang berubah sendiri.
Kerendahan hati itu menghidupi, karena sumbernya dari Yang Ilahi.
…
Mas Redjo
…

