Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya besi yang sanggup menajamkan besi, demikian juga hanya manusia yang sanggup menajamkan sesama manusia.”
(Filosofi Kearifan Hidup)
…
Kontradiksi Makna
Mungkin ada pembaca yang mengernyitkan keningnya saat membaca judul tulisan refleksi filosofis ini.
Mengapa? Isi yang terkandung di balik judul tulisan ini terkesan seolah-olah meminimalisasi atau bahkan mendiskreditkan peran seorang Ibu. Bukankah peran Ibu dapat dikiaskan, ‘bagaikan malaikat tanpa sayap?’
Makna Sesungguhnya
Padahal lewat tulisan ini, peran Ibu yang dimaksud adalah kelemahan seorang manusia, justru dapat jadi kekuatan yang mengedukasi. Dalam konteks ini, penulis mengibaratkan, bahwa kelemahan itu ibarat peran Ibu yang telah mendidik kita. Kelemahan yang kelak justru dapat mendatangkan kekuatan.
Tentang Karakter Manusia
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang terunik di bumi ini. Sungguh dan tidak ada duanya hal keunikannya itu.
Empat ratus tahun sebelum Yesus Kristus, filsuf Hipocrates telah menemukan ‘keempat karakter manusia’ di sepanjang zaman.
(1) Sanguinis yang paling bergelora dan berapi-api lewat tuturan serta pola tingkahnya.
(2) Melankolis yang sendu sedih sepi dan sangat dalam emosinya. Si pendiam yang halus perasaannya.
(3) Kolerik yang energik dan pekerja keras yang tidak dapat menikmati seni.
(4) Flegmatik yang kalem dan tenang; pendengar dan penasihat yang alon-alon kelakon.
Kelemahan dapat Menjadi Kekuatan Kelak
Jika di dalam ziarah hidup ini, Anda sempat menjumpai dan bersua wajah dengan seorang manusia yang memiliki keunikan:
- Pribadi yang keras dan kasar, dialah Ibu yang mendidik saya, agar kelak dapat bersikap berani serta tegas.
- Pribadi yang lembut, dialah Ibu yang mengajarkan hal cinta serta kasih sayang.
- Pribadi yang acuh tak acuh dan masa bodoh, dialah Ibu yang mendidik saya, agar belajar berpikir, bagaimana saya peduli kepada sesama.
- Pribadi yang tidak dapat dipercaya serta tuturannya sulit dipegang. Dialah Ibu yang mengajarkan saya, bahwa betapa sakitnya jika dikhianati.
- Pribadi yang jahat dan doyan memanfaatkan orang lain. Dialah Ibu yang mendidik saya, agar berpikir bagaimana bisa berbuat banyak namun tetap berwaspada.
Kunci Sukses itu ada di dalam Genggaman
Bagi saya, setiap pribadi itu sejatinya baik dan unik. Mereka adalah sesama yang sungguh spesial di dalam ziarah hidup ini. Bukankah semuanya itu, akhirnya akan berpulang kepada saya? Bagaimana saya memperlakukan sesama, memosisikan diri di samping mereka, dan bagaimana saya belajar untuk memahami keunikan mereka?
โAlah bisa karena biasa!โ
…
Kediri,ย 7ย Oktoberย 2024

