Calon Mantu โ 22 | Oleh Mas Redjo
Red-Joss.com | Doa adalah nafas kehidupan untuk bersyukur dan berterima kasih atas anugerah Allah.
Selalu membiasakan diri dan disiplin dalam doa, saya merasakan kedekatan dengan Allah untuk berserah pasrah.
Seperti yang saya lakukan pagi ini, ketika saya memutuskan untuk menemui Pak Hasan di pabriknya.
Saya memilih diam tanpa memberi kabar lebih dulu, karena saya ingin melihat aktivitas di pabrik. Semoga prasangka buruk saya tentang pekerjaan Wen yang terlambat itu tidak terbukti.
Saya juga berangkat ke pabrik lebih pagi, supaya tidak bertemu dengan Wen. Selain menghindari jalanan macet, saya juga menghindari Wen. Menurut sepupunya, Wen ke kantor jam 10an, karena ia mengantar keponakannya dulu ke sekolah.
Saya sendiri tidak tahu, sebab apa saya ingin menghindari Wen. Bisa jadi saya kecewa, karena Wen memiliki pacar, atau pekerjaan Wen yang sering terlambat.
Ternyata pabrik Pak Hasan tidak sulit ditemukan, meski baru kali ini saya ke pabriknya yang baru. Je-pe-es dengan akurat memberi petunjuk arah jalan.
Saya mengamati lingkungan pabrik Pak Hasan. Seorang satpam menanyakan maksud kedatangan saya, lalu menyilakan saya naik ke lantai 2 yang digunakan sebagai kantor.
Saya agak kaget, ketika membuka pintu, padangan saya beradu dengan Wen yang sedang telepon.
Untuk menutupi kegugupan, saya segera tersenyum.
“Hai, Liana. Ada Bapak?” tanya saya ramah. Saya lihat Liana melirik Wen.
“Itu ada Wenโฆ!” jawab Liana.
“Saya tanya Pak Hasan, lho. Bukan Wen,” canda saya. Andra, sepupu Wen, yang duduk di sebelah Liana berdehem.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 22 | Ketemu Pacar Wen

