“Ikuti ajaran dan ajakan kebaikan seseorang itu bijak, tapi tidak untuk meniru perbuatan buruknya.”
Sederhana. Kita juga tidak harus berkonflik, mencerca, dan apalagi menghakimi pribadi yang mengajak itu. Karena ia mengingkari dan tidak mau melakukannya.
“Omong doang…”
Oh, maaf. Jangan salah menilai dan menghakimi seseorang, kendati ia telah mengingkari kata-katanya sendiri.
Kita juga tidak harus menuduhnya munafik, sekadar berteori, atau jauh panggang dari api. Tapi kita sendiri yang harus menghidupinya dengan perbuatan nyata.
Coba simak, nasihat Guru Agung kita, “Jangan meniru perbuatan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, karena mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan “ (Mat 23: 3).
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat! Sebab, kamu menaruh beban yang berat untuk dipikul orang lain, tetapi dirimu sendiri tidak mau menyentuh beban itu dengan satu jari pun” (Luk 11: 46).
Ketika kita menemukan pengajar atau pemimpin palsu seperti itu, kita tidak harus menghakiminya. Bisa jadi ia alpa, keliru, dan terpeleset oleh lidahnya sendiri.
Hikmat yang dipetik dari peristiwa itu adalah jika kita ingin memberi contoh keteladanan hendaknya kita lebih dulu mendidik diri sendiri, dan dimulai dari keluarga sendiri. Kita memberi contoh lewat perilaku, tidak dengan teori atau kata-kata kosong. Tapi dihidupi agar teladan itu mengakar kuat di sanubari.
Jika ada pengajar atau pemimpin yang tidak mau diingatkan secara baik-baik, ya, tidak harus dimusuhi dihakimi, dan dikucilkan. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang ingkari bukti?
Stop menghakimi orang lain!
Dengan menghakimi orang lain, sesungguhnya kita tidak hanya melukai orang itu, tapi juga melukai diri sendiri. Dengan mengasihi dan mendoakan mereka yang bersalah, khilaf, dan ingkari janji itu pikiran kita jadi dicerahkan dan hati ini dijernihkan.
Ketimbang kita menuntut orang lain untuk berubah, lebih bijak kita yang berubah sendiri untuk jadi baik, dan bahagia.
Mas Redjo

