Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika Anda hanya melakukan hal-hal yang mudah, hidup akan jadi sulit. Akan tetapi, jika Anda rela melakukan hal-hal yang sulit, hidup akan jadi mudah.”
(T. Harv Eker)
Hidup adalah Sebuah Pertarungan
Adagium Latin, “Vivere militare est,” “Hidup itu sebuah pertempuran.” Sungguh, bahwa hidup ini tidaklah mudah. Namun sungguh berat, sulit, dan bahkan menantang nyali manusia. Maka, lahirkan ungkapan bahwa “Hanya mereka yang kuat yang akan menang, yang lemah akan terkapar binasa.” Karena dalam diam, alam pun akan menyeleksinya lewat proses hidup ini.
Sungguh benar, adagium dari filsuf stoikisme Romawi, Seneca yang telah menegaskan kenyataan yang sangat menantang nyali hidup manusia.
Petani dan Pohon Apel
Ilustrasi tentang seorang Petani yang menaburkan pupuk secara berlebihan ke sebatang pohon apel peliharaannya. Suatu ketika, seorang ahli pertanian menegurnya, “Janganlah berlebihan memberikan pupuk, nanti pohon apelmu justru tidak berdaya menghadapi tantangan alam. Karena ia hanya akan bergantung pada pupuk. Biarkan dia bertumbuh dengan potensi dan kekuatannya sendiri.”
Ternyata, teguran yang keras itu berbuahkan hasil. Karena tanpa pupuk yang berlebihan pun pohon apelnya juga dapat bertumbuh subur dan bahkan sudah berbuah sangat lebat.
Maka, Petani itu menerapkan prinsip hidup yang sama di dalam keluarganya. Sejak saat itu, ia mulai membiarkan anak-anaknya untuk hidup dan bertumbuh secara lebih mandiri dengan tanpa banyak aturan dan aneka kemudahan hidup.
(Dari berbagai Sumber)
Filosofi tentang Kearifan Menghadapi Tantangan Hidup
- Apa dan bagaimana jadinya hidup ini, jika ternyata kita hanya doyan untuk “melakukan hal-hal yang mudah?” Karena nyata pula, bahwa kita tidak dapat berkembang menghadapi tantangan, sehingga hidup jadi kian sulit, karena kita tidak siap untuk menghadapi kesulitan.
- Sebaliknya lewat “hidup yang sulit,” kita akan membangun kekuatan, ketabahan, dan keterampilan, sehingga hidup akan jadi kian mudah, karena secara mental kita telah siap untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.
Refleksi
Lewat pergulatan hidup ini, kita dapat menarik seutas benang merah, bahwa “Kesulitan maupun kemudahan di dalam hidup ini, sangatlah relatif.” Karena hal yang utama dan pertama ialah, bagaimana kita memilih dan memiliki pondasi hidup yang kuat dalam menghadapi hal-hal yang sulit. Dari sanalah hidup ini justru akan jadi lebih indah dan kian bermakna.
Bukankah keberanian adalah kedahsyatan dalam bersikap?
Keberanian adalah bara api yang
membakar jiwa.
(Fortitudo est Ignis Animi)
Kediri, 13 Februari 2026

