Halaman 19 Buku Putih: tentang Kesetiaan setelah Pesta Berakhir.
Lagu “Ku Mau Ikut Yesus Selamanya” adalah deklarasi iman yang sangat relevan untuk merenungkan masa transisi dari ‘puncak emosional’ (seperti pesta atau perayaan) kembali ke rutinitas hidup yang sering kali terasa datar.
Dalam hidup rohani, ‘pesta’ sebagai lambang momen-momen berkat melimpah, perasaan sukacita yang meluap, atau keberhasilan besar. Namun, tantangan sesungguhnya bukan saat kita berada di atas gunung, melainkan saat kita turun ke lembah rutinitas.
Mengikuti Yesus selamanya berarti paham, bahwa penyertaan Tuhan tidak berubah, meski suasana hati atau keadaan kita berubah. Ketika kebisingan pesta usai dan suasana jadi sepi, di situlah kualitas kesetiaan kita diuji. Apakah kita masih mau ikut Yesus saat tidak ada tepuk tangan atau kemeriahan?
Tekun dalam Rutinitas yang Membosankan
Kata ‘selamanya’ dalam lagu ini mengandung makna kontinuitas. Banyak orang sanggup mengikuti Yesus dalam durasi singkat saat emosi masih berkobar. Tapi, ikut Dia selamanya itu membutuhkan (endurance). St Paul mengingatkan di Gal 6: 9, “Jangan kita jemu-jemu berbuat baik…”
Rasa bosan adalah musuh pertumbuhan rohani. Kita diajak untuk melihat, bahwa setiap langkah kecil dalam ketaatan sehari-hari itu mungkin terasa membosankan, tapi sesungguhnya adalah investasi kekekalan yang sedang kita bangun bersama Kristus.
Salam sehat.
Jlitheng

