“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19: 6b).
Injil hari ini berbicara tentang kesetiaan dalam komitmen perkawinan dan inilah suatu tantangan bagi pasangan suami-isteri zaman modern.
Dulu orang saling berjuang mempertahankan kesetiaan perkawinan demi kebahagiaan seluruh keluarga. Zaman ini orang cenderung untuk memementingkan kebahagiaan sendiri, individualis. Tidak mengherankan, banyak kasus perceraian terjadi. Berbagai alasan digunakan untuk bercerai, jika sudah tidak nyaman dan tiada kecocokan lagi. Solusi perceraian itu dianggap yang terbaik. Faktanya, banyak nilai lain dalam perkawinan yang masih bisa jadi alasan, mengapa sebuah perkawinan itu harus dipertahankan.
Injil hari ini, mengajarkan, bahwa Allah yang telah mempersatukan suami dan istri. Ketika Allah tidak lagi jadi pusat dalam sebuah perkawinan, maka ego masing-masing itu yang jadi pusat dan segala-galanya dalam keluarga. Oleh karena itu suami dan istri harus bekerja sama untuk tetap menjadikan Allah sebagai pusat atau subjek utama dalam keluarga.
Mari kita meneladan Bunda Maria dan Santo Yosef, juga orangtua Santa Teresa dari Lisieux yang saling mencintai dan menjadikan Allah di pusat hidup keluarga.
Sr. M. Christa, P. Karm
Jumat, 15 Agustus 2025
Yos 24: 1-13 Mzm 136: 1-3.16-18.21-22.24; Mat 19: 3-12
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

