“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9: 22).
Yesus secara terbuka menyatakan misi hidup-Nya: menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit. Bagi para murid, pernyataan ini tentu sangat mengejutkan. Mereka berharap Mesias datang sebagai pahlawan yang membebaskan secara politik dan sosial, bukan sebagai pribadi yang harus mengalami penderitaan dan kematian. Yesus menunjukkan, bahwa penderitaan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah.
Sebagai pengikut-Nya, kita diajak untuk tidak takut menghadapi penderitaan atau penolakan dalam hidup ini. Tidak jarang kita menjumpai jalan hidup yang tidak sesuai harapan. Tapi seperti Yesus, kita dapat tetap setia dan percaya, bahwa di balik salib, selalu ada harapan. Seperti pohon yang harus dipangkas agar bisa bertumbuh lebih kuat dan berbuah lebih banyak, kita pun kadang harus melewati masa-masa sulit agar iman kita makin bertumbuh dan matang.
Janganlah putus asa saat menghadapi masalah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam penderitaan. Kesetiaan kita dalam menjalani penderitaan bersama Kristus akan mengantar kita pada kehidupan yang baru dan penuh makna.
Anna
Kamis, 19 Februari 2026
Ul 30: 15-20 Mzm 1: 1-4.6 Luk 9: 22-25
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

