Tidak sedikit keluarga yang terpecah, saling bertikai, bahkan saling membunuh hanya karena memperebutkan harta warisan. Bagi orang yang serakah, harta itu akan dipandang lebih bernilai daripada hidup seseorang.
Yesus juga dihadapkan pada kasus pembagian harta warisan. Pada zaman-Nya, sudah jadi kebiasaan orang-orang membawa perselisihan mereka kepada para Rabi untuk diselesaikan. Namun, Yesus menolak untuk menyelesaikan perkara tersebut.
Sebaliknya, la memberikan nasihat kepada mereka yang berselisih itu melalui perumpamaan. Yesus tidak mengkritik soal harta warisan, tapi la mengkritik sifat egois dan serakah yang lebih mementingkan diri sendiri daripada berbagi dengan banyak orang yang membutuhkan. Perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh sebenarnya hendak menunjukkan tipikal orang yang telah kehilangan rasa peduli terhadap orang lain. Bagi orang yang tidak memiliki rasa peduli, hidup adalah menghabiskan harta yang dikumpulkan untuk dirinya sendiri. Sayangnya, ketika nyawanya diambil oleh Sang Pencipta, tampak semua harta yang dikumpulkannya itu jadi sia-sia belaka. Sebab bukan dia yang menikmati harta itu, melainkan orang lain.
Yesus mengajarkan pentingnya menggunakan harta secara tepat dan bermanfaat. Sebab bukan harta itu yang jadi persoalan, melainkan ketamakan dan keserakahan akan harta itulah yang membahayakan. Yesus mengatakan dengan tegas, “Walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak berasal dari kekayaan itu.” Hidup adalah dari Allah, dan kekayaan yang dimiliki juga perlu memberikan manfaat kepada Allah melalui perbuatan baik kepada sesama.
Untuk disadari, bahwa kekayaan, jabatan, dan status terhormat itu adalah jerat bagi hidup kita, jika kita tidak hati-hati mengendalikannya. Kita semua sama di hadapan Tuhan, dan semua yang kita miliki itu semata-mata adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita untuk kepentingan dunia, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Jadi kaya di dunia ini bukanlah dosa. Akan tetapi, ketamakan akan kekayaan itu yang menutup mata dan hati pada penderitaan orang lain, adalah dosa. Kekayaan hendaknya mendekatkan kita kepada Allah dan sesama, bukannya menjauhkan kita dari Allah dan sesama.
Sebenarnya, apa harta kita yang sesungguhnya dalam hidup ini?
“Tuhan, bebaskanlah kami dari segala ketamakan dan keterikatan pada harta benda. Semoga kami sepenuhnya menginginkan Engkau sebagai harta kami yang sesungguhnya. Tolonglah kami agar dapat menggunakan harta yang Engkau berikan itu dengan baik, sehingga bermanfaat bagi kemuliaan nama-Mu dan bagi kebaikan sesama, terutama mereka yang sangat membutuhkan. Amin.”
Ziarah Batin

