Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Keserakahan adalah bentuk kecanduan paling besar.”
(Leon F. Seltzer)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini diturunkan, karena saya ‘terkesima dan tergugah’ oleh opini M. Zain Wahyudi, “Manusia Itu Makhluk Serakah,” harian Kompas, Rabu, 28/8/2024 kolom Humaniora, sebuah catatan iptek.
Serba Negatif
Mendengar kata ‘serakah atau keserakahan,’ tentu secara spontan orang akan mengasosiasikan dengan sesuatu yang serba negatif.
Orang-orang selalu memandang sebagai sebuah sikap negatif alias rakus, tamak, atau sikap loba: orang yang selalu ingin mendapatkan sesuatu lebih daripada yang selayaknya. Fatalnya, bahwa sesuatu itu demi kepentingannya sendiri dan bahkan dapat merugikan orang lain.
Latar Belakang
Neel Burton, psikiater, filsuf, dan dosen Oxford, Inggris berpendapat, bahwa serakah itu muncul, karena trauma pada fase awal kehidupan, ketidakkonsistenan, atau pengabaian orangtua. Hal itu berdampak pada anak yang merasa cemas, kurang dicintai, dan rendah diri.
Dampaknya, bahwa di masa dewasanya, mereka akan terfokus pada pengganti rasa cinta dan keamanan yang tidak mereka miliki.
Keserakahan itu juga berdasarkan genetika. Maka, sifat serakah itu justru membuat orang dapat bertahan hidup. Jika dia tidak serakah, maka dia pun akan punah.
Keserakahan adalah Kecanduan Terbesar
Ronald E. Riggio, seorang profesor kepemimpinan dan psikologi organisasi Claremont McKenna College AS mengatakan, bahwa ciri lain keserakahan adalah mereka cenderung untuk mendapatkan porsi terbesar dalam pembagian sesuatu dan sangat materialistik.
Hal ini adalah sebentuk kecanduan terbesar. Egonya tidak pernah mudah terpuaskan. Baginya tak ada istilah kata cukup.
Semua itu hanya sebentuk inokulasi diri: upaya menutupi perasaan tertekan cemas, depresi, malu, dan bersalah di masa lalunya.
Pandangan M. Zain Wahyudi
Ia berpendapat, bahwa fenomena kerakusan itu terungkap lewat fakta-fakta berikut ini:
- Menjadikan istri, anak, menantu, dan keponakan menduduki jabatan politik. Itu sifat rakus.
- Menimbun banyak sembako saat orang kesulitan membeli barang yang serupa. Itu termasuk loba.
- Sudah memiliki suami atau istri cantik/tampan, dan mendukung, tetapi masih mencari selingkuhan lain. Itu termasuk serakah.
Dampak Negatif
M. Zain Wahyudi menulis, bahwa orang serakah itu justru tidak bahagia, karena jiwa mereka hampa.
Karena mereka sangat terpaku pada objek keserakahannya, maka hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta, namun mereka tidak menikmatinya.
Mereka memiliki kondisi psikologi negatif, semisal stres, kelelahan, kecemasan, keputusasaan, dan depresi.
Selain itu, keserakahan dapat merusak nilai dan sistem sosial dalam masyarakat. Karena itu berupa dorongan yang sangat primitif.
Setelah mencermati dengan saksama gagasan dan roh dari tulisan ini, apa pandangan serta pendapat Anda?
Marilah kita hidup sadar, bahwa apa pun yang kita miliki hari ini adalah suatu pemberian terbaik dari atas.
Mari Kita Merenungkan Makna dari Nasihat ini:
“Akar dari semua permasalahan adalah cinta mamon!”
“Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu!”
…
Kediri,ย 29ย Agustusย 2024

