Persepakatan untuk membunuh Yesus muncul, setelah mukjizat kebangkitan Lazarus. Anehnya, mukjizat itu bukannya menimbulkan pertobatan massal, melainkan justru mempercepat rencana para pemimpin agama untuk menyingkirkan Yesus.
Banyak orang percaya kepada Yesus, karena kebangkitan Lazarus, sedang Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi merasa posisi mereka terancam. Mereka berkata, “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita” (Yoh. 11: 48). Kekhawatiran mereka bukan hanya soal teologi, melainkan juga soal politik dan kekuasaan.
Kayafas, Imam besar tahun itu, berkata, “Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita binasa” (Yoh. 11: 50). Tanpa dia sadari, ia sedang bernubuat, bahwa kematian Yesus akan jadi jalan keselamatan, bukan hanya bagi bangsa Israel, melainkan juga untuk mengumpulkan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai saat itu, mereka sepakat untuk membunuh Yesus. Sejak itu, Yesus tidak lagi tampil di muka umum dan mulai mempersiapkan diri untuk penderitaan-Nya.
“Ya, Tuhan, semoga hati kami dipenuhi cinta kasih dan kebaikan. Jauhkan kami dari kebencian dan balas dendam. Amin.”
Ziarah Batin

